وَاللهِ مَحَارِمُ فَلاَ تَهْتَكُوْهَا
"Dan bagi Allah itu ada beberapa rahasia yang diharamkan-Nya untuk menyatakannya, maka jangan kamu buka". (Hadis yang tercantum dalam kitab Addurun Nafis)
Ketika kita telah memahami rahasia musyahadah dengan zawq (rasa), maka kita wajib memelihara dan menjaganya. Karena di sana terdapat berbagai rahasia ketuhanan yang haram untuk diungkap. Tentu saja sebagai hamba yang beriman, kita wajib mematuhi segala perintah dan larangan-Nya. Termasuk mematuhi perintah untuk menyimpan dalam hati apa pun yang kita ketahui tentang rahasia ketuhanan, dan tidak menceritakannya kepada sembarang orang. Apalagi kepada orang yang bukan ahlinya. Karena rahasia musyahadah adalah rahasia hati (sirr) yang amat mulia.
Maqam Fana dan Baqa
Kategori orang yang ahli adalah orang yang hatinya suci dari segala sesuatu selain Allah. Orang semacam itu senantiasa menjunjung tinggi amanat yang diberikan Allah, untuk tidak menceritakan kepada siapa pun hal-hal yang dialaminya, selama dalam proses perjalanan spiritual. Ia juga senantiasa menjaga berbagai hal yang dapat menghalanginya dari Allah SWT. Di samping itu, karena orang tersebut telah mencapai Maqam Baqa maka wajib baginya untuk kembali menerapkan syariat Nabi Muhammad SAW. Menunaikah segala perintah dan larangan yang ditetapkan dalam syariat dan senantiasa bertindak dan berlaku proporsional dalam memenuhi hak dan kewajibannya. Sehingga ia kekal bersama Allah (baqa billah). Sebuah maqam yang didambakan oleh semuapejalan (salik).
Dalam ilmu tauhid dikenal dua macam maqam:
1. Maqam Fana, yaitu memandang dan bermusyahadah tentang empat perkara. Tauhidul af ’al, Tauhidul asma, Tauhidus Sifat, dan Tauhidudz Dzat.
2. Maqam Baqa. Terdiri dari Syuhudul Katsrah Fil Wahdah, yang artinya memandang yang banyak di dalam yang satu. Dan Syuhudul Wahdah Fil Katsrah, yakni memandang yang satu di dalam yang banyak.
Maqam Baqa lebih tinggi dan lebih mulia daripada Maqam Fana. Karena, Maqam Fana akan binasa dan lenyap di bawah Ahdiyyah Allah, sedangkan Maqam Baqa adalah maqam yang tetap dan kekal di dalam Wahdiyyah Allah. Selain itu, Maqam Fana adalah maqam dari pandangan, bahwa tiada yang maujud kecuali Allah, sementara Maqam Baqa adalah maqam dari pandangan, bahwa Allah dan Qayyumiyyah-Nya senantiasa menyertai setiap zarratul wujud (bagian terkecil dari wujud), yang berarti Ia Qaim (berdiri) di atas segala wujud. Maqam Baqa dinamakan juga Maqam Tajalli, Zhuhur (penampakan), dan Maqam.
Penjelasan lebih lanjut mengenai maqam ini, dapat dilihat dari kalimat-kalimat berikut:
مَا رَاَيْتُ شَيْئًا اِلاَّ وَرَاَيْتُ اللهَ مَعَهُ .
"Aku tidak melihat sesuatu melainkan aku melihat Allah bersamanya."
مَا رَاَيْتُ شَيْئًا اِلاَّ وَرَاَيْتُ اللهَ فِيْهِ .
"Aku tidak melihat sesuatu melainkan aku melihat Allah di dalamnya."
مَا رَاَيْتُ شَيْئًا اِلاَّ وَرَاَيْتُ اللهَ قَبْلَهُ .
"Aku tidak melihat sesuatu melainkan aku melihat Allah sebelumnya."
مَا رَاَيْتُ شَيْئًا اِلاَّ وَرَاَيْتُ اللهَ بَعْدَهُ .
"Aku tidak melihat sesuatu melainkan aku melihat Allah sesudahnya."
Maqam Baqa tidak dapat dicapai kecuali telah melewati Maqam Fana. Dengan kata lain, Maqam Baqa merupakan maqam yang dihasilkan dari Maqam Fana. Karena dihasilkan dari Maqam Fana, maka Maqam Baqa tidak lain daripada fanaulfana ("lenyap dalam kelenyapan"), yang dicapai setelah fana. Di dalam Syarah Ward Sahr, Maulana Syaikh Abdullah Ibn Hijazi asy-Syarqawi al-Misri ra. mengatakan: "Biasanya, tidaklah mungkin dapat diperoleh Maqam Baqa billah melainkan terlebih dahulu berhasil dicapai Maqam Fana. Hasil dari Maqam Fana adalah Maqam Baqa. Jika tidak demikian, maka itu jarang terjadi alias nadir."
Pengertian fana menurut definisi ahli tasawuf adalah meng-qaim-kan Allah beserta Asma, Sifat, dan Zat-Nya. Sebagian kalangan 'arifin billahmengatakan bahwa yang dimaksud dengan fana adalah menjadi fana dari hawa nafsu kemanusiaan (basyariyyah) untuk berpaling kepada Tuhannya.
Sedangkan, definisi baqa menurut para ahli tasawuf adalah, Allah SWT berdiri (qa'im) di atas segala sesuatu. Sebagian 'arifin berpendapat bahwa:
الْبَقَاءُ اَنْ يَكُوْنَ مِنَ اللهِ لِلَّهِ بِاللهِ .
"Baqa adalah keadaan di mana hamba merasa bahwa ia dari Allah, untuk Allah, dan dengan Allah."
Yang dimaksud "dari Allah" adalah bahwa Allah lah yang menciptakan semua yang berwujud dan yang terjadi. Yang dimaksud "untuk Allah" adalah bahwa kepemilikan hanya untuk Allah dan realitas-Nya; dan yang dimaksud "dengan Allah" adalah bahwa ia maujud dengan sebab al-Haqq Ta'ala. Syekh Qutubuddin Qistani qs. berpendapat bahwa: "Baik Maqam Fana maupun Maqam Baqa, keduanya merupakan sifat ma'nawiah pada hamba. Di antara keduanya, salah satunya menjadi penyebab lahirnya yang lain. Yaitu, Maqam Fana menghasilkan Maqam Baqa. Keduanya, dalam istilah isyarat Sufi, fana ditujukan terhadap segalasifat jahat basyariyyah, sedangkan baqa ditujukan pada sifat-sifat terpuji yang Uluhiyyah."
Syekh Ibrahim Ibn Sufyan qs. mengatakan bahwa: "Fana dan baqa mengandung nilai keikhlasan Wahdaniyyah (Keesaan) dan merupakan bentuk pengabdian yang sejati. Bentuk-bentuk pengabdian selain dari keduanya dapat dianggap sebagai sesat dan Zindik."
Shiddiqin & 'Arifin
Jika seseorang telah berhasil mencapai maqam Fana Fillah dan Baqa Billah, niscaya ia akan memperoleh lezatnya cita rasa musyahadah akan Allah, sebagaimana yang dicita-citakannya, yang tidak memperolehnya dari maqam-maqam lainnya. Orang ini sampai pada derajat orang yang shiddiq, yakni orang yang didekatkan kepada Allah (muqarrabin), sehingga ia menjadi ahli tauhid yang sebenarnya, dan kemudian disebut pula sebagai 'Arif billah yang sejati, atau Waliyullah. Di dalam setiap tarikan nafas orang ini, diperoleh pahala dari Allah sebanyak seribu kali orang yang mati syahid dalam perang fisabilillah. Hal ini seperti terungkap dalam pernyataan Qutub al-Gaws Muhyin Nufus Maulana Sayyid Abu Bakar al- Idrus qs:
اِنَّ لِلْعَارِفِيْنَ بِكُلِّ نَفْسٍ دَرَجَةُ اَلْفِ شَهِيْدٍ .
"Sesungguhnya, setiap tarikan nafas kaum 'arif memperoleh pahala seribu kali lipat daripada pahala orang yang mati syahid pada jalan Allah (sabilillah)."
Padahal, jumlah tarikan nafas manusia normal dalam sehari semalam adalah sekitar dua puluh delapan ribu. Pada saat di mana seseorang telah mencapai Maqam Fana dan baqa tersebut, "jannah mu'ajjalah" akan diperoleh seketika, yaitu berupa ma'rifah akan Allah SWT. Ia juga akan mendapatkan segala nikmat dan kelezatan yang didambakan oleh nafsu dan matanya secara kekal, abadi, sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya:
وَفِيْهَا مَا تَشْتَهِيْهِ اْلاَنْفُسُ وَتَلَذُّ اْلاَعْيُنُ وَاَنْتُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ .
"Dan di dalam Surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya." (Az Zukhruf : 71).
Di dalam Surga ia akan merasakan nikmat yang tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas di hati manusia. Nabi Muhammad SAW menggambarkan hal ini:
خُلِقَ فِيْهَا مَا لاَ عَيْنٌ رَاَتْ وَلاَ اُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ .
"Diciptakan di dalam Surga nikmat yang tiada pernah dilihat oleh mata, tiada pernah didengar oleh telinga, dan tiada pernah terlintas di hati manusia.” (Tercantum dalam kitab Addurun Nafis)
Allah juga akan membuka hijab yang selama ini menutupi, dan memperkenalkan Diri-Nya kepadanya. Sehingga, orang ini akan mengenal Allah dengan benar dan makrifat dengan sempurna. Dan pada gilirannya akan mampu melihat Allah dengan sebenar-benar Zat-Nya yang Laysa Kamitslihi Syay-Un Wa Huwas Samii’ul Bashiir (tidak satu pun serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat). Dengan demikian, orang ini pada dasarnya telah memperoleh kemenangan saat itu juga. Ia dapat berdampingan dan berdekatan dengan Allah SWT. Ia akan terbebas dari rasa sakit (penyakit) dan duka nestapa. Dan sebaliknya, rasa suka citanya semakin bertambah. Proses seperti ini berlangsung abadi. Hal ini seperti disebutkan di dalam Al Quran:
اَلاَ اِنَّ اَوْلِيَاءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ .
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Yunus: 62).
Aulia dan Karomahnya
Para Waliyullah itu juga akan memperoleh Kerajaan dan keramat, yang tidak sama dengan raja-raja yang berkuasa di bumi. Para Waliyullah itulah raja yang sebenarnya. Para Waliyullah dan hamba-hamba pilihan-Nya, telah menunjukkan keridaan mereka kepada qadha (keputusan) Allah. Bagi mereka, laut, darat, dan seluruh alam semesta adalah satu alas (qadam). Batu dan tanah bagi mereka laksana emas dan perak. Dengan keramat yang dimilikinya, mereka mampu mengubah batu atau tanah menjadi emas atau perak.
Satu riwayat yang kerap dikutip adalah kisah tentang Ibrahim Ibn Adham ra. Suatu ketika, lbrahim hendak menumpang sebuah perahu, maka dipanggillah si tukang perahu. Seperti biasa, tukang perahu mematok harga kepada calon penumpangnya. Dan Ibrahim Ibn Adham diharuskan membayar satu dinar. Padahal saat itu Ibn Adham tidak punya uang sepeserpun. Kemudian ia melakukan salat dua rakaat dengan satu salam, dan kemudian berdoa kepada Allah dengan doanya:
اَللَّهُمَّ اَنَّهُمْ قَدْ سَئَلُوْنِىْ مَا لَيْسَ عِنْدِىْ وَهُوَ عِنْدَكَ كَثِيْرٌ .
"Ya Tuhanku! Sesungguhnya mereka telah meminta suatu barang dariku di mana barang itu tidak kumiliki, sementara, barang itu sangat banyak pada-Mu."
Dan seketika itu juga, semua pasir yang ada di sekitarnya berubah menjadi dinar. Ia mengambil satu dinar, lalu memberikan kepada tukang perahu dan kemudian ia naik ke atas perahu.
Sesungguhnya, segala jin, manusia, binatang, dan burung, tersungkur di hadapan Tuhan-Nya. Mereka semua tidak berkehendak kecuali hanya kehendak Allah. Mereka semua tidak takut kepada siapa pun kecuali hanya kepada Allah SWT. Mereka semua tidak berkhidmat kepada sesuatupun di antara makhluk-Nya, kecuali hanya kepada Allah SWT. Syekh Masyayikhina Sayyid Mustafa Ibn Kamal ad-Din al-Bakri ra. melukiskan hal ini di dalam Ward Sahr-nya:
عَبِيْدٌ وَلَكِنِ الْمُلُوْكُ عَبِيْدُهُمْ وَعِنْدَهُمْ اَضْحَى لَهُ الْكَوْنُ خَادِمًا .
"Hamba yang sejati akan menundukkan para penguasa. Bahkan seluruh makhluk pun berkhidmat kepadanya".
'Arif billah Maulana Syekh Siddiq Ibn Umar Khan qs. Mengatakan: "Katakanlah bahwa segenap alam akan tunduk dan berkhidmat kepada manusia sebagai hamba. Terlebih jika hamba tersebut adalah orang-orang yang menempati tingkatan pintu kemuliaan (wali), orang-orang siddiq, dan memang dianggap pantas. Ketundukan alam kepada hamba yang demikian melebihi sepuluh tingkatan para raja mulia di dunia ini. Raja-raja ini tidak mampu menyamai hamba mulia tersebut, karena bagian raja-raja ini pada dasarnya sangat sedikit dibanding betapa besar nikmat dan bagian yang diperoleh oleh hamba-hamba tersebut."
Hamba-hamba yang dimaksud tidak lain adalah para wali Allah. Mereka memperoleh Kerajaan dari nikmat Allah di dunia ini melebihi para raja-raja bumi, sedangkan yang mereka peroleh ketika di Akhirat, sebagaimana difirmankan oleh Allah:
وَاِذَا رَاَيْتَ ثَمَّ رَاَيْتَ نَعِيْمًا وَمُلْكًا كَبِيْرًا .
"Dan apabila kamu melihat di sana (Surga), niscaya kamu akan melihat pelbagai macam kenikmatan dan Kerajaan yang besar." (Al Insan: 20).
Maka, bila kita renungkan sejenak, tak ada yang lebih benar dari semua yang telah dikatakan Allah dalam Al Quran. Jika Allah telah mengatakan demikian (dalam Al Quran), maka tentulah benar. Surga adalah Kerajaan yang amat besarmelebihi dunia ini. Dunia terlalu kecil untuk dibandingkan dengan Akhirat yang begitu besar. Di samping besar, Akhirat juga kekal. Apa yang telah kita peroleh di Akhirat maka itulah bagian kita untuk selama-lamanya. Sedangkan dunia hanya sedikit dan bersifat sementara. Apa yang telah kita peroleh di dunia ini pada akhirnya akan hancur dan tak ada nilainya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh sebagian hukama (kaum bijak):
اَلدُّنْيَا اَقَلُّ مِنَ الْقَلِيْلِ وَعَاشِقُهَا اَذَلُّ مِنَ الذَّلِيْلِ .
"Dunia itu lebih sedikit daripada yang sedikit dan orang menikmati kesenangan-kesenangan duniawinya lebih hina daripada segala yang hina."
Semoga Allah menjadikan kita termasuk di antara orang-orang yang menyaksikan (syuhud) dan di antara orang-orang yang rindu dan senang dengan berkat Nabi Muhammad SAW.