Allah melakukan seleksi ketat terhadap manusia agar mencapai derajat sebagai ‘Arifinbillah
Ini adalah kisah Syekh Abul Hasan Asy Syadzili, yang dipercaya sebagai salah satu ‘Arifinbillah. Dengan pakaian serba bagus, Asy Syadizli mengupas perihal zuhud atau hidup sederhana pada sebuah pengajian. Di antara para hadirin terdapat seorang fakir yang berpakaian kusam dan bau. Orang fakir itu berseru dalam hatinya, “Bagaimana mungkin wali Allah berbicara tentang zuhud, sedang dia sendiri berpakaian bagus.”
Tak berapa lama kemudian, Asy Syadzili menoleh kepada orang tersebut sambil berkata, ”Pakaianmu yang seperti itu adalah pakaian yang mengundang senang dunia karena dengan pakaian itu kamu merasa dipandang orang sebagai orang zuhud. Kalau pakaianku ini justru mengundang orang berpikir bahwa aku orang kaya dan tidak menganggap aku sebagai orang zuhud, karena zuhud adalah maqam atau kedudukan yang tinggi.” Si fakir lantas berdiri dan mengatakan kepada Asy Syadzili, “Demi Allah hatiku memang berkata demikian. Aku sekarang minta ampun kepada Allah dan bertaubat.”
Para ‘Arifinbillah adalah kekasih Allah. Merekalah pewaris Nabi dalam pengertian yang sebenarnya. Mereka telah mengenal dan terbuka dari hakikat Dzat Allah dengan semua asma, sifat, dan perbuatan-Nya. Pada mereka tak ada ketakutan dan keraguan sedikit pun. Setiap helaan nafasnya setara dengan kesyahidan seribu mujahid karena, tak pernah ada kehendaknya kecuali hanya kepada Allah. Nafsunya telah sirna. Kata-katanya menjadi kenyataan. Perbuatannya mencerminkan hikmah. Siapakah mereka?
Karena tak ada yang bisa mengenal Allah melainkan hanya Allah, dan tidak ada yang mengenal rasul dan nabi melainkan rasul dan nabi, maka juga tidak ada yang mengenal ‘Arifinbillah kecuali para ‘Arifinbillah itu sendiri. Ada tiga predikat bagi para ‘arifin billah yaitu wali Allah (Waliyyullah), Shadiqullah, dan Habibullah. Ketiga predikat itu bukan menunjukkan perbedaan derajat antara yang satu dengan yang lain, melainkan hanya diberikan karena fungsi dan tugasnya yang berlainan. Ketiganya bahkan saling berkelindan di dalam menyampaikan risalah Allah.
Mereka yang berjuluk Waliyullah adalah orang-orang yang sudah “laa khaufun a’laihim walahum yahzdanuun” atau tidak ada ketakutan dan kesedihan sedikit pun terhadap apapun. Beberapa referensi menyebut mereka sebagai Syekh Ghaib karena secara jasmani, keberadaannya nisbi. Pada kaum muslim, Nabi Khidir As. yang mengajar Nabi Musa As. seperti diceritakan Al Quran di dalam surat Al Kahfi dipercaya sebagai salah satu dari wali Allah. Kendati kelakuannya aneh di mata manusia (Musa), oleh Allah dia ditetapkan dan disebut sebagai hamba yang saleh.
Keistimewaan dari para wali Allah adalah anugerah yang diberikan oleh Allah kepada mereka. Dengan kehendak Allah mereka menjadi pemimpin para malaikat, sehingga punya kemampuan mengatur seluruh orbit dan kejadian alam. Ketika mereka memerintahkan kepada bumi agar hancur, maka hancurlah bumi. Dalam tingkat yang paling ekstrim bahkan kiamat berada dalam perintahnya. Semua anugerah yang melekat kepada para wali Allah, sungguh tak sanggup dipahami dan dipercaya oleh manusia (yang awam), seperti ketika Musa tak sanggup memahami kelakuan Khidir yang membunuh seorang bayi.
Shadiqullah adalah mereka yang mengenal Allah dan dikaruniai kekuasaan yang luar biasa. Dia memahami dan mampu berbicara dengan seluruh makhluk Allah, selain manusia. Dari bangsa jin hingga malaikat, dari binatang melata hingga hewan yang berjalan dengan empat kaki. Predikat ini salah satunya melekat kepada Nabi Sulaiman As. Didalam Al Quran, Allah menceritakan tentang anugerah-Nya yang diberikan kepada Sulaiman sehingga dia menjadi penguasa yang paling berkuasa di muka bumi bahkan hingga sekarang.
Tak ada istana yang berlapis emas seluruhnya kecuali istana milik Sulaiman. Tak ada istana yang seluruh lantainya transparan sehingga terlihat di bawahnya mengalir kolam seperti istana milik Sulaiman. Tidak ada pemimpin yang memiliki pasukan yang meliputi bangsa jin dan bangsa manusia, seperti Sulaiman mampu memimpin mereka. Dengan seluruh anugerah Allah itu Sulaiman tetap tak pernah memalingkan nafas, getaran, denyut dari seluruh batin, jiwa, dan raganya untuk senantiasa dekat kepada Allah.
Dikisahkan pada suatu hari jin bernama Ifrit menawarkan kepada Sulaiman untuk memindahkan Istana Balqis yang terletak di Yaman hanya dalam hitungan kedipan mata. Sulaiman menolak tawaran itu dan lebih mengharapkan pertolongan Allah sehingga lebih cepat dari kemampuan yang bisa dilakukan Ifrit dan temantemannya, Istana Balqis sudah berpindah ke daratan di sekitar Yerusalem.
Jika pada saat ini ada manusia yang dianugerahi Allah dengan kekuasaan seperti yang didapat oleh Sulaiman, niscaya manusia itu akan lalai terhadap Allah. Tak usah jauh-jauh, ketika misalnya datang kepada mereka, jin atau makhluk lain menawarkan bantuan untuk melakukan sesuatu mereka paling tidak akan menerima tawaran tersebut sebagai sebuah kehendak Allah. Padahal kehendak Allah adalah agar manusia hanya berkehendak kepada Allah dan bukan kepada selain-Nya, apalagi hanya jin dan makhluk lainnya. Hanya mereka yang selalu menjadikan sabar sebagai teman hidupnya dan tak menghiraukan dunia, yang bisa mencapai derajat seperti Sulaiman.
Tak Semua Manusia
Predikat ketiga adalah Habibullah. Mereka adalah kekasih Allah yang mengenal Allah dan dianugerahi kemampuan untuk membimbing dan menjaga manusia agar tidak berpaling dari Allah. Nabi Muhammad SAW adalah penghulu dari mereka yang berjuluk Habibullah kendati Waliyyullah dan Shadiqullah juga berpenghulu kepada Nabi. Fisik jasmaninya terlihat melalui syariat yang dilakukan (adab syariah). Misalnya berpuasa, menikah, makan dan minum, shalat, memelihara silahturahmi, dan sebagainya.
Sementara fisik barzaqi mereka tercermin dari pengabdian mereka yang baik kepada Allah (adab hikmah). Mereka tak pernah menunda taat di satu waktu kepada waktu yang lain. Tidak pula menyebarkan ilmu dengan maksud agar manusia membenarkannya. Tujuan dan kehendak Allah sesuai dengan tujuan dan kehendak mereka, karena mereka sudah pengenal Dzat Allah dengan seluruh sifat, asma, dan perbuatan-Nya (adab al haq). Mereka mencapai baqa’billah karena paham di mana posisi seorang hamba dan di mana posisi tuhan, paham siapa Allah dan siapa hamba.
Anugerah Allah yang diberikan kepada para kekasihnya (Waliyyulah, Shadiqullah dan Habibullah) tidak diberikan kepada semua manusia, meskipun dengan kehendak-Nya hal itu bukan suatu perkara yang sulit dan mustahil. Allah melakukan seleksi ketat terhadap manusia agar mencapai derajat sebagai ‘Arifinbillah. Muaranya adalah hati yang berlapis-lapis. Jika pada semua lapisan hatinya, manusia sanggup tiada henti sedikit pun untuk tidak berpaling dari Allah, maka dengan laa haula walaa quwwata illabillahi a’liyyil adzim dia akan mengenal tidak ada yang kuasa, tidak ada kehendak, tidak ada yang hidup, tidak ada yang berilmu, tidak ada yang melihat, tidak ada yang mendengar, dan tidak ada yang berkata-kata kecuali hanya Allah.
Jika manusia menginginkan untuk mengenal Allah dan dirinya, ada sebuah petunjuk yang diisyaratkan oleh Allah dalam surat Al Kahfi ayat ke 17. “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dialah yang akan mendapat petunjuk, dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka tak akan didapatkan seorang Waliyyan mursyidan yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” Dengan isyarat itu, sebenarnya Allah memberitahu manusia tentang adanya walliyan mursyidan sebagai pihak yang dikehendaki Allah untuk memberi petunjuk tentang Allah.
Waliyyan mursyidan adalah para kekasih Allah seperti Waliyyulah, Shadiqullah, dan Habibullah. Mereka bisa tidak tampak secara fisik jasmani seperti Khidir, namun bisa juga terlihat seperti Sulaiman dan Muhammad. Namun ketika sebagai Nabi, Muhammad tidak lagi ada secara fisik jasmani, lalu siapakah yang disebut sebagai Walliyan mursyidan?
Sebuah hadis menegaskan ulama adalah para pewaris para Nabi. Jika Nabi mengatakan bahwa para ulama adalah pewarisnya maka keberadaan dan tugasnya tentu sebangun dengan keberadaan dan tugas Nabi, kecuali menerima wahyu. Namun perlu diketahui, bukan ulama sembarang ulama, tetapi ulama yang telah yang mengenal Allah beserta asma-Nya, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya dengan pengetahuan yang sempurna. Mereka tidak butuh apapun selain hanya Allah, tidak pernah merasa apapun, dan sebaik-baik manusia karena kesadarannya mengenal Allah.
Dalam pemahaman hakikat Waliyyan Mursyidan adalah ‘Arifinbillah yang berarti pula Waliyyullah, Shadiqullah, dan Habibullah. Mereka tak lain adalah perwujudan Allah.