RANGKUMAN KHUTBAH JUM'AT MURSYID AKMALIAH PESANTREN AKMALIAH SALAFIAH JUMAT, 3 JANUARI 2020/8 JUMADIL AWAL 1441 H


Sabtu , 04 Januari 2020


Mari kita intropeksi kembali ke dalam diri kita setelah meninggalkan tahun 2019 Masehi. Dan kini kita menginjak tahun 2020 Masehi dimana kita sama sama telah faham dan tahu bahwa diawal tahun ini pertama tama Allah SWT memberikan berlimpahnya air dimana mana. Air itu adalah kehidupan. Mahluk apapun tidak akan tahan tanpa air. Kita jalan di padang pasir tanpa makanan masih kuat namun jika tanpa air itu sesuatu yang mustahil. Namun apabila air itu berlebihan bisa jadi disebut musibah, Ujian, cobaan ataupun azab dari Allah SWT. Intinya suatu negeri/kampung apapun jika di dalamnya banyak orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT niscaya akan diturunkan berbagai macam rizki atau dalam istilah islam “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr” yakni negeri yang penuh dengan kedamaian yang indah yang istimewa bahkan di dalamnya penuh dengan ampunan dari Allah SWT yang berarti berlimpah berkah dari Allah SWT. 

Selanjutnya kita intropeksi bahwa diri kita tercipta dari 4 anasir yang di dalam al quran disebutkan min sulalah min tin ialah sari pati tanah. Sari pati tanah 4 anasir ini ialah angin api air tanah yang merupakan 4 anasir saripati tanah. Dimana saripati itu masuk ke dalam diri kita melalui proses menutrisi melalui makanan dan berbagai macam yang akhrinya menjadi saripati dalam diri kita. Jadi, kita tidak akan mungkin lepas dari 4 anasir itu. Yang perlu dipahami bahwa 4 anasir yang terkait dengan diri kita itu sekaligus menjadi tentara Allah SWT di muka bumi ini yang siap mengirim keberkahan atau sebaliknya dalam bentuk azab. Jika ada ayat yang mengatakan :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum ayat 41)

Kerusakan di darat dan laut akibat tangan manusia yang serakah maka ekosistem tidak akan benar dan pasti akan terjadi bencana di sana sini. Perhatikan pula tentara Allah SWT jika datang baik angin, api, air maupun tanah maka tidak ada satu teknologipun yang dapat menghentikannya. Seperti tornado, tsunami, semua itu adalah kiriman dari Allah SWT sekaligus ujian dan cobaan. Begitu juga saat tanah bereaksi melalui berbagai macam baik likuifaksi atau gunung meletus itu semua Allah SWT berikan sebagai tanda tanda bagi umat islam khususnya dan umat manusia umumnya agar ingat kepada Allah SWT agar ingat selalu perintahnya, mengabdi kepadanya, menjadi hamba Allah SWT yang patuh. Jika tidak maka akan terus datang silih berganti tentara Allah SWT dimana mana. Kendatipun tidak serta merta datang pasukan Allah SWT berarti satu kampung itu durhaka namun sejarah seperti kaumnya Nabu Hud as disapu bersih dengan angin karena umatnya congkak dan sombong seraya menepuk dada dengan kekuatan bangunannya hartanya dst. Jamannya Nabi Musa as terjadi lukuifaksi yaitu saat itu Qorun dan kaumnya dibenamkan oleh Allah SWT termasuk kaum Nabi Luth as yaitu kaum LGBT yang dibenamkan oleh Allah SWT di dalam tanah (likuifaksi). Umat Nabi Nuh as terjadi peristiwa banjir bandang. Semua itu sejarah yang untuk dijadikan pedoman Bagi kita. Minimal diri kita dan keluarga kita. Apakah kita mau mengikuti mereka atau tidak? Oleh karenanya kita selalu berdoa di dalam shalat :

‎اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus,

‎صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Oleh karenanya kita kembali ke dalam diri kita yaitu “jaga dirimu dan keluargamu dari bencana”. Nerak itu bukan hanya di akhirat namun juga di dunia. Jangan bayangkan neraka hanya di akhirat karena di dunia pun dirasakan dalam bentuk azab azab. Oleh karenanya mari dengan dimulai dari diri dan keluarga kita, karena suatu tempat atau kaum tidak jadi Allah SWT turunkan azab dengan ujian dan cobaan karena ada orang yang selalu mengingat Allah SWT sedang zikir sedang shalat. Itulah janhi Allah SWT. Oleh karenanya tidak ada jalan lain saat orang lain menerima ujian dan cobaan maka kita dituntut empati kita saat melihat semua itu. Apakah kita terenyuh dan masuk golongan orang beriman? Karena golongan orang beriman ialah :


لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

"Belum disebut kamu orang yang beriman sebelum kamu mencintai saudaramu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri"

Ini saudara kita sedang kebanjiran namun kalian berhura hura, enak enakan, bertamasya, makan enak, sementara saudara kita disana banyak menerima bencana. Di Akmaliah sedang sibuk menggalang dan menyalurkan bantuan mulai dari pendanaan sampai kebutuhan yang terkena bencana dan itulah bentuk empati karena ingin menjadi orang yang beriman. Oleh karenanya saat kita terkena musibah tidak ada jalan lain selain mengembalikan kepada Allah SWT bahwa semua milik Allah SWT, datang dari Allah SWT dan akan kembali kepada Allah SWT. Semua rizki yang datang ke kita itu semua dari Allah SWT dan Kembali kepada Allah SWT dengan cara dimana kita ada rasa empati kepada saudara kita. Semoga kita termasuk orang orang yang diberikan oleh Allah SWT nur iman di dalam hati amin ya robbal ‘alamin. 

Dirangkum oleh : Himmah Hizboel