RANGKUMAN KAJIAN MALAM SABTU (MASA), 16 February 2018/01 Jumadits Tsani 1439H

RANGKUMAN KAJIAN MALAM SABTU (MASA)
Kitab Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Atha'illah As-Sakandari)
Pesantren Akmaliah Salafiah 
Jum'at, 16 February 2018/1 Jumadits Tsani 1439H
_______________

 

Telah dibahas uraian mengenai orang orang yang menuju kepada Allah SWT yang dinyatakan pada kalam hikmahnya bahwa tidak ada jarak untuk ditempuh antara dirimu dengan diri-Nya begitu juga tidak ada dirimu terputusdengan tuhanmu yang akhirnya harus disambungkan atau dihubungkan. Andai saja tidak ada medan nafsu yang menjadikan tempat untuk seorang yang menuju kepada Allah SWT untuk melawan hawa nafsu (jihadul akbar, jihadun nafsi) maka niscaya orang orang yang menuju kepada Allah SWT dengan orang biasa nyaris tidak terlihat dengan jelas. 

Selengkapnya

RANGKUMAN KAJIAN JUMAT MALAM, 9 February 2018/25 Jumadil Awal 1439H

RANGKUMAN KAJIAN JUMAT MALAM
Kitab Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Atha'illah As-Sakandari)
Pesantren Akmaliah Salafiah 
Jum'at, 09 February 2018/25 Jumadil Awal 1439H
_______________

 

“Andai tidak ada tempat medan peperangan melawan nafsu niscaya tidak akan terlihat dengan jelas siapa yang menuju kepada Allah atau orang yang diam karena sesungguhnya DIA dengan kita tidak ada jarak yang harus ditempuh dengan suatu kendaraan apapun. Begitu juga kita tidak terputus dengan Allah SWT sehingga harus disambungkan”. 

Selengkapnya

RANGKUMAN KAJIAN JUMAT MALAM, 19 Januari 2018/03 Jumadil Awal 1439H

RANGKUMAN KAJIAN JUMAT MALAM
Kitab Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Atha'illah As-Sakandari)
Pesantren Akmaliah Salafiah 
Jum'at, 19 Januari 2018/03 Jumadil Awal 1439H

_______________

Mu’alif mengatakan :
“Bahwa andai saja tidak ada ruangan/medan/tempat/area nafsu yang dijadikan sebagai tempat berperang dengan nafsu niscaya tidak akan terlihat orang yang benar benar menuju kepada Allah SWT karena disebutkan antaramu dengan antara-Nya tidak ada jarak yang harus ditempuh walau dengan kendaraan apapun bahkan juga tidak ada kalian itu putus hubungan dengan Allah SWT yang harus disambungkan” (Hikam Nomor 246)

Selengkapnya

Rangkuman Kajian Jum'at, 06 Oktober 2017/17 Muharam 1439H

Kitab Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Athoillah)
Pesantren Akmaliah Salafiah 
Jum'at, 6 Oktober 2017/17 Muharam 1439H

_______________

Pembahasan pada minggu lalu ialah sebahagian dari kesempurnaan nikmat itu manakala kalian mendapatkan rizki yang cukup, berlimpah berkah dan rizki itu tidak membawa kalian untuk melakukan perbuatan perbuatan dosa (Hikam Nomor 227). Itulah nikmat yang sempurna. Tidak ada artinya keberkahan atau berlimpahnya rizki yang ternyata membawa kesesatan diri kalian. Tidak sedikit orang yang mendapatkan kenikmatan kenikmatan namun justru bertambah jauh dari Allah SWT karena terbawa arus oleh rizkinya itu. Banyak orang yang kaya raya namun tidak tersentuh oleh agama. Banyak orang yang memangku jabatan namun lupa akan nilai nilai agama. Banyak orang yang tersanjung akan kemegahannya namun mengabaikan agamanya. Oleh karenanya saat kalian mendapatkan limpahan rizki dari Allah SWT kemudian bertambah dekat dengan Allah SWT bahwa rizki itu dijadikan alat untuk mendekatkan diri dengan Allah SWT itu adalah kenikmatan yang sempurna. Yang kasihan ialah orang yang mendapatkan rizki namun justru rizkinya yang menyeret dirinya kepada kenistaan.

Selengkapnya

RANGKUMAN KAJIAN JUMAT MALAM, 29 September 2017/10 Muharam 1439H

Telah dibahas tentang berbagai macam persoalan persoalan yang terkait dengan masalah kehidupan terutama nikmat yang sampai ke dalam diri kita. Banyaknya nikmat yang berlimpah dan dirasakan nikmat itu tentu saja dengan syuhud dan musyahadah kepada Allah SWT dengan baik dan benar. Adapun derita atau azab itu akibat ada hijab hijab kita di dalam memandang kepada Allah SWT. Penderitaan yang selalu datang ke dalam diri disebabkan karena tertutup hati memandang tentang keelokan wujud diri-Nya. Mungkin terlalu muluk jika berbicara memandang keelokan wujudullah namun jika dibumikan bahasanya ialah karena ia tidak memandang tentang hakekat perbuatan melalui pemahaman ilmu tauhid. Andai saja kita memandang setiap kejadian di sekitar dan sekeliling kita dengan mengembalikan kepada Allah SWT dengan sikap ilmu tauhid contoh tidak mungkin seseorang kehadapan kita tanpa izin atau kehendak Allah SWT, andai paham tentang itu maka luruhlah hati.

Selengkapnya