RANGKUMAN KAJIAN MALAM SABTU, 20 April 2018/05 Sya’ban 1439H


Sabtu , 21 April 2018


RANGKUMAN KAJIAN MALAM SABTU (MASA)
Kitab Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Atha'illah As-Sakandari)
Pesantren Akmaliah Salafiah 
Jum'at, 20 April 2018/05 Sya’ban 1439H

_______________

Pada kajian lalu telah dibahas :

“Rasa lezatnya dari buah/taat ketika hidup di dunia sebagai tanda/bukti bahwa itu kabar gembira bagi orang orang yang beramal soleh yakni atas adanya imbalan atau balasan yang kontan atau segera nanti di akhirat”. (Hikam nomor 254)

“Bagaimana dirimu akan meminta balasan atau upah terhadap suatu amal yang Allah SWT sendiri yang memberikan/menganugerahkan kepadamu amal itu Atau bagaimana mungkin engkau meminta upah dari suatu keikhlasan padahal Allah SWT sendiri yang memberikan anugerah ikhlas kepadamu”. (Hikam nomor 255)

Kita boleh serakah/tomak yang diperbolehkan yaitu terkait ilmu dan amal. Tidak ada kata tamat dalam menuntut ilmu. Menuntut ilmu itu dari dekapan seorang ibu bahkan bisa dari kandungan ibunya hingga liang lahat. 

Bersyukur bagi kalian yang diberikan anugerah dan hidayah Allah SWT dimana kita sama sama duduk di majelis yang dicintai Allah SWT untuk zikir dan menuntut ilmu oleh karenanya jangan merasa bosan dalam menuntut ilmu. Kalian duduk di majelis zikir ini Insya Allah diampuni segala dosa dosanya. Sangat disayangkan bagi yang tidak duduk bersama di majelis zikir. 

Kembali ke kajian kita bahwa sangatlah betul bahwa bagaimana mungkin kalian meminta imbalan atas suatu ibadah sedangkan hidayah/anugerah ibadah itu dari Allah SWT atau bagaimana pula kamu meminta imbalan dari keikhlasanmu sedangkan Allah SWT yang memberikan anugerah/hidayah keikhlasan itu?
Analogi :

Bapak memberikan modal, tempat dan mempromosikan dagangan kalian. Keuntungannya pun untuk kalian. Kemudian kalian datang ke Bapak meminta gaji ke Bapak. Apakah masuk akal?
Kita diberikan hidup oleh Allah SWT dan sekaligus diberikan nikmat sehat oleh Allah SWT yang merupakan anugerah dari Allah SWT yang harus disyukuri. 

Kalian dapat shalat dengan gerakan yang sempurna itu karena anugerah sehat dari Allah SWT. Banyak orang yang sehat namun tidak shalat/ibadah karena tidak diberi hidayah oleh Allah SWT. Yang memberikan hidayah adalah Allah SWT yang memberikan nikmat Allah SWT bahkan memberikan pada sisi hati yang dalam yaitu bentuk niat yang ikhlas. Sementara kebahagiaan itu diberikan oleh Allah SWT yang kenikmatan itupun untuk kita. Saat kita sehat dan dapat menikmati ibadah itu kembali kepada/untuk kita. Saat diberikan nikmat penglihatan itu adalah anugerah yang kita dapat nikmati saat memandang pemandangan yang Indah/istri yang solehah. Semua anugerah sehat dari Allah SWT itu yang menikmati kalian lalu kenapa kalian sibuk meminta balasan dari Allah SWT? Dan saat doa kalian belum dikabulkan mengapa ngedumel? Saat Allah SWT menyuruh untuk beribadah yang akan kembali kepada kita sendiri mengapa masih ngeyel?

Mu’alif disini menjelaskan bahwa kalian tidak pantas menuntut kepada Allah SWT sementara semua fasilitas telah Allah SWT limpahkan kepada kita termasuk yang ada dalam diri kita yaitu niat dimana ikhlas itu suatu anugrah yang Allah SWT berikan kepada kita. Proses meraih anugerah ikhlas ialah melalui belajar ilmu tauhid dan hakekat. Tauhid dan hakekat itulah rangkaian atau jalan menuju ikhlas. Adapun diberikan anugerah ikhlas atau tidak semua tergantung pada Allah SWT dimana Allah SWT mau memberikan ikhlas atau tidak. Banyak orang yang belajar ilmu tauhid dan hakekat tidak ada tanda tanda ikhlas pada dirinya. Ikhlas bukan sebatas kata rela/melepaskan namun akidah yang didasari oleh murni yang berarti niatan yang murni yang tidak tercampur apapun. Inilah ikhlas yang sebenar benarnya (100%). Jika masih ternoda oleh suatu apapun sekalipun harapan/keinginan misal ingin mendapatkan sanjungan dari orang lain bahkan ingin mendapatkan sesuatu selain dari Allah SWT bahkan pahala sekalipun maka masuk dalam kategori tidak ikhlas dan masuk dalam riya khofi yang berarti lawanan tauhid maka tidak mungkin ia menjadi ikhlas. Ikhlas adalah anugerah dari Allah SWT. Saat Allah SWT menyatakan dalam QS. Al Bayyinah ayat 5 :

‎وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
Jadi mendirikan shalat dan zakat dengan ikhlas. Sedangkan ikhlas itu sulit di dapat kecuali bagi orang yang khususul khusus.  Orang biasa akan sulit ikhlas seperti yang bapak jelaskan di atas (100%). Namun ikhlas itu ada tingkatannya sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ali imran ayat 163 :

هُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

Yaitu ada ikhlas yang 10%,20% dan sebagainya dan hanya orang orang khususul khusus yang ikhlasnya 100%. Namun jangan putus asa jika hanya ada 10% ikhlas dalam diri/ di dalam ibadah kita karena itupun anugerah dari Allah SWT. Jika diukur ikhlas kalian dengan taraf 70% maka belum tentu. Hakekatnya orang yang ikhlas itu harus menghadapkan lurus kepada Allah SWT sebagaiman pula firman-Nya QS. Ar rum ayat 30 :

‎فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, 

Imam ghazali menafsirkan ayat tersebut bahwa menghadap disini maksudnya bukan hanya jasad namun hadapkan diri kita kepada Allah SWT itu bukan sekedar jasad namun juga ruh jiwa akal pun harus menghadap kepada Allah SWT. Hadirkan Allah SWT dalam hati kalian saat duduk di majelis dan saat ibadah. Jangan sampai kalian duduk di majelis namun pikirannya kemana mana karena ini sama saja tidak ikhlas. Duduk dan menghadal kepada Allah SWT harus utuh lahir batin, jangan lahiriahnya menghadap kepada Allah SWT namun batinnya tidak ataupun sebaliknya. 

Akhirnya kita kembali intropeksi/muhasabah ke dalam diri, sudah sejauh mana pengbdian kita kepada Allah SWT dan sejauh mana ilmu ilmu yang kita amalkan yang kita jadikan pelita dalam perjalanan yang gelap gulit untuk datang menghadap tuhan semesta alam? Jangan putus atas untuk berjuang, jangan katakan kamu merasa tidak kuat berjuang. Jika kalian berucap seperti itu maka sama saja kalian menuduh Allah SWT itu zhalim. Bukankah Allah SWT itu memberikan ujian dan cobaan sesuai kadar hamba-Nya? Bagaimana Allah SWT memberikan sesuatu yang hamba-Nya tidak mampu? Allah SWT tau semuanya dan memberikan semuanya kepada hamba hamba-Nya itu pasti sesuai kemanpuan hamba-Nya. Jangan tanyakan mengapa Allah SWT memberikan ujian seperti ini namun tanyakan sudah sebanyak amal ibadah kalian. Sama seperti kalian membuat mainan maka kalian membuat sesuka suka kalian, digunakan/diletakkan dimana itu suka suka kalian. Tidak ada yang berhak memprotes terlebih yang protes mainan itu sendiri. Cobalah kalian belajar menjadi tuhan di antara organ tubuh kalian dalam hal memimpin dan mengatur. 
Contoh :

Kuku panjang, lalu kalian potong karena suka bersolek.
Semua yang kalian lakukan dalam koridor baik dan benar kendatipun menggerakkan tangan ke tempat yang jorok sekalipun seperti cawi. Organ yang ditempatkan untuk membersihkan jorok jorok umumnya tangan kiri, yang bagus bagus itu tangan kanan. 

Jika kalian sudah merasakan menjadi tuhan di antara organ tubuh kalian maka kalian tidak akan protes kepada Allah SWT dan berdoa kepad Allah SWT semoga ditempatkan di bagian yang baik baik dan kalian pun tidak akan menyinyirkan yang buruk buruk kendatipun secara syariat itu dinyatakan salah, namun secara tauhid itu yang ada adalah hikmah. Andai tidak ada orang yang ingkar dan tidak beriman kepada Allah SWT niscaya kalian ibadah haji/umroh akan jalan kaki karena nyaris orang orang yang mengembangkan teknologi itu dari orang orang yang tidak beriman karena Allah SWT sengaja mengembangkan pemikiran orang yang tidak beriman sedangan bagi yang beriman Allah SWT sengaja membatasi pikiran agar imannya yang lebih menonjol sehingga dunia semakin semarak karena ada pengembangan teknologi dan yang menikmatinya adalah orang yang beriman. 

Jadi apapun alasan kalian menggerutu kepada Allah SWT itu karena kekurangan atau kesalahan ilmu yang ada dalam diri kalian terlebih lagi orang yang meminta upah/pahala atas ibadah yang kalian lakukan. Sementara Allah SWT yang telah melimpahkan segala macam nikmat/anugerah/kesehatan kita yang menentukan kalian beribadah. Andai kalian sakit maka beribadahnya dalam gerakan yang berbeda. Terlebih kalian yang telah diberikan kesehatan Allah SWT tidak untuk melangkah ke majelis untuk shalat berjamaah terlebih dengan Bapak, maka merugilah kalian. Sebagaimana Rasulullah SAW mengatakan “andai ia tahu maka ia akan merangkak untuk berjamaah dengan Rasulnya”. Bagaimana kalian bisa mengajak lingkunan kalian sedangkan kalian tidak membagikan kenikmatan itu? Jadi, dakwah itu bukan hanya kata kata melainkan juga dari perjuangan fisik, kelakuan dan akhlaq. Tidak perlu dengan kata kata karena kata kata itu sulit. 

Nikmati dan syukuri anugerah Allah SWT yang berlimpah. Jangan hitung hitungan dengan Allah SWT dengan meminta imbalan. Dengan demikian kita termasuk orang orang yang mendapatkan anugerah dan rahmat dari Allah SWT. 
_______________

Dirangkum oleh : Himmah Hizboel