RANGKUMAN KAJIAN MALAM SABTU, 30 Maret 2018/13 Rajab 1439H


Sabtu , 31 Maret 2018


RANGKUMAN KAJIAN MALAM SABTU (MASA)
Kitab Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Atha'illah As-Sakandari)
Pesantren Akmaliah Salafiah 
Jum'at, 30 Maret 2018/13 Rajab 1439H

_______________

“Bahwa Allah SWT mengalirkan kepada setiap hamba hamba-Nya dengan menggelar semua yang ada di alam semesta ini yakni terbukti dengan adanya mahluk, alam atau dunia atas adanya nama nama Allah SWT dan dengan nama nama itu tentu saja atas adanya sifat sifat sudah pasti terkait erat dengan sifat sifat Allah SWT yakni zat Allah SWT. Sebab sangat mustahil adanya sifat sifat yang berdiri tanpa dengan zat wujud yang dinamakan”. (Hikam Nomor 252)

Pada kajian lalu telah dibahas pula bahwa ada kalanya orang itu mazdub billah dan ada kalanya orang itu mazdub bi syaikh. Mazdub Billah yaitu ia akan diberitahukan oleh Allah SWT melalui proses pemahaman secara sempurna dengan melihat keelokan wujudullah dan sedikit demi sedikit ia mulai menapaki maqom baqa yaitu dengan cara mulai dari memahami hakekat zat Allah SWT sampai akhirnya ia turun (berproses) mulai dari zat Allag, sifatullah, asma Allah dan memaknai af’alullah hingga ia jejek di dalam maqom Baqa yaitu dengan mengamalkan apa yang ditetapkan oleh Allah SWT dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan inilah yang disebut orang orang yang mazdub. Orang mazdubi biasanya itu dari atas ke bawah. Berbeda dengan orang orang yang menuju kepada Allah SWT yang berproses  kebalikannya mazdub yaitu sedikit demi sedikit dengan ia beristiqomah mulai dari pengamalan dalam bimbingan yang baik dan benar hingga ia sampai mulai dari  pemahaman tauhidul af’al, tauhidul asma, tauhidus sifat hingga tauhiduz zat. 

Dalam hal ini di akmaliah sudah menjadi misinya dimana mazdub dibagi dua yaitu ;
1. Mazdub Billah
2. Mazdub bi Syaikh
Sama seperti yang kami kehendaki disini bahwa kebanyakan salikin mungkin banyak yang belum paham mengenai agama yang sesungguhnya, hakekat perjalanan hidup dengan perjalan orang yang diistimewakan Allah SWT dimana thoriqin begitu berjuang yang amat luar biasa. Di antara mereka berjuang untuk memahami apa yang sebenanrnya sudah kalian pahami. Kalian tanpa berjuang seperti thoriqin namun diberikan pemahaman. Orang orang ahlut thoriq berjuang dengan thoriqohnya hanya untuk memahami dan mengerti mulai dari memahami dan mengerti nasfu nafsu dan cara menundukkannya sedangkan kalian sudah diberi pemahaman bagian mengerti mengenai hakekat diri, nafsu dan lain sebagainya. 

Orang orang yang biasa/tidakk mazdub ia berproses dari bawah ke atas dengan melakukan thoriqoh dan dengan bimbingan. Berbeda dengan yang mazdub baik mazdub billah maupun mazdub bi syaikh ia akan diangkat terlebih dahulu. Kalian diangkat hatinya dan dicuci hatinya hingga akhirnya paham mengenai pengertian dzatullah hingga af’alullah karena banyak sekali salikin yang tidak paham atau tidak dari pesantren lalu tiba tiba diberikan  pemahaman oleh Allah SWT maka itu sama dengan mazdub. Maka disini yang akan selamat apabila selama masih mengikuti bimbingan Mursyidnya karena orang yang mazdub sedikit demi sedikit akan turun dan jika tidak dalam bimbingan maka ia akan terjatuh. Istiqomah dan nurutlah dalam bimbingan. Mursyidnya telah mengangkat dengan izin Allah SWT dengan dilapangkan dadanya dan diberikan nur hatinya hingga mampu merevolusi pandangan hidupnya yang sebelumnya A menjadi B. Sebut saja ia berubah 180 derajat dan ini istimewa. Sedangkan para thoriqin untuk seperti itu harus melakukan perjuangan yang luar biasa. Namun banyak salikin yang akhirnya jalan sendiri, di depan manut namun dibelakang ia melakukan sesuai dengan pemahamannya sendiri dan ini yang amat sangat berbahaya. Kenapa? Karena ia diangkat langsung ke dzatullah lalu pelan pelan ia turun. Jika tidak dalam bimbingan maka ia akan terjatuh yang akhrinya dalam faham jabariyah atau jatuh dalam faham pemahaman dirinya. Masyayih mengatakan bahwa apabila seorang salikin sudah jatuh ke dalam dan terperangkap dalam kemaksiatan itu sulit sekali keluar dari kemaksiatannya itu karena kemaksiatannya didukung oleh pemahaman dan pengertian dirinya yang disandarkan kepada Allah SWT yang akhirnya membuat ia makin dalam terperosok ke dalam jurang kenistaan dan ini yang sangat berbahaya. Oleh karennya Bapak tidak lelah untuk memberitahukan atau menasehati yang mungkin membuat kalian tersinggung. Yang terpenting kalian tetap selamat dan ada didalam hatinya itu iman cinta dan tidak pernah melepaskan diri bahwa dirinya adalah seorang anak. 

Anak anakku semuanya,
Cankam dan perhatikan baik baik bahwa kalian bahkan nyaris seluruh salikin akmaliah itu mazdub bi syaikh yaitu diangkat pemahamannya untuk mendapatkan pemahaman yang rosih, yang sangat terbuka. Oleh karenanya kita menganut ilmu ahlul kasyaf. 

Saat Allah SWT memberikan cahaya dalam hatinya dan akhirnya membuat paradigma kalian berubah dan selalu terpesona dan selalu ingin dekat dengan Mursyidnya maka itulah yang dinamakan mazdub bi syaikh. Seorang salikin saat merasakan adanya perubahan dalam dirinya maka akan merasakan kerinduan kepada Mursyid kalian dan ini dapat menjadi berbahaya bagi salikah jika memandang Bapak sebagai laki laki bukan sebagai Mursyid karena akan menjadi mudah hanyut hatinya dan ini yang menjadikan berbahaya. 

Setiap orang yang memberikan apapun kepada orang yang shaleh atau orang yang beribadah misal memberikan takjil kepada orang yang berpuasa maka yang menyediakan takjil pahalanya dinilai sama dengan pahala orang yang berpuasa dan sah diterima oleh Allah SWT sekalipun yang berpuasa tidak diterima puasanya oleh Allah SWT.

Bahwa, orang orang ang telah diberikan anugerah oleh Allah SWT Dimana orang tersebut diistimewakan maka saat kalian memandangnya jangan terpesona seperti terpesonanya anai anai atau laron yang baru keluar dari kegelapan dan melihat yang terang dimana ia tidak memikirkan harus selamat dari semuanya dimana menghampiri cahaya namun menjadikan dirinya hancur.

Bapak mengetahui banyak yang terpesona dan memang harusnya seperti namun apakah rasa itu setelah lama masih ada? Apabila tidak ada apakah karena erosi iman/ kotornya hati/jiwa/gelapnya hati? Karena namanya cinta tidak akan pernah pudar. Harus terus ada dan harus dijaga namun dimaklumi jika sudah terbiasa sabagaimana proses pengenalan sebelum menjadi istri sampai menjadi suami istri dimana rindu dan cinta berganti dengan kemesraan diantaranya dan kemesraan berganti menjadi ahad/kesatuan yang sesungguhnya seolah olah menyatakan “aku adalah engkau dan engkau adalah aku”. Sebagaimana di dalam bahasa jawa istri disebut garwo yang nunut manut suami. Yang disebut wanita atau istri adalah bagian jiwanya suami dan ini yang diterangkan dalam Al Quran bahwa hawa tercipta dari dirinya (adam) bukan tercipta dari tulang rusuk adam.

‎يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An nisa ayat 1)

Perumpamaan yang mengatakan hawa tercipta dari tulang rusuk adam ini berlebihan sebagaimana berlebihannya pemaknaan hadis bahwa muslim yang bergaul di malam jumat pahalanya sama dengan 1000 orang mati syahid. Isi hadis yang sebenarnya  ialah :

‎مَنِ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ ثُمَّ يُصَلِّىَ مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى وَفَضْلَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ

“Barangsiapa yang mandi kemudian mendatangi Jum’at, lalu ia shalat semampunya dan diam (mendengarkan khutbah) hingga selesai, kemudian ia lanjutkan dengan shalat bersama Imam, maka akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu dan hari jum’at yang lain. Dan bahkan hingga lebih tiga hari.” (HR. Muslim)

Maksud hadis tersebut ialah mandi janabat dipagi hari yang kemudian para ulama memaknakan mandi janabat disitu orang orang yang telah melakukan persenggamaan. Namun jika dilihat dari hadisnya yang berarti bukan malam namun pagi karena kalau malam berarti sudah diselingi shalat subuh. 

Tidak ada hadis atau Al Quran yang menyatakan hawa tercipta dari tulang rusuk adam. Yang ada adalah wanita itu seperti tulang tusuk dan di dalam Al Quran disebutkan hawa ercipta dari dirinya (adam).

Jadi, Allah SWT telah mengangkat kalian semua dengan cara dimana hati kalian dilapangkan yaitu mudah menerima anugerah ilmu yang istimewa mengenai pengertian hakekat zat wajibul wujud yang sebenarnya tidak mudah dipahami oleh orang terlebih ia mempunyai ego. Jika bukan karena anugerah Allah SWT maka akan sulit memahaminya. Kalian mendapatkan anugerah pemahaman ini tanpa melalui proses thoriqoh maka kalian harus terus berpegangan dalam bimbingan Mursyid agar tidak terjatuh ke jurang kenistaan dan akan makin sulit keluar dari kenistaannya. Oleh karenanya istiqomahlah. Jika terlepas dari bimbingan Murysid maka akan terjatuh dan akan sulit keluar dari kenistaan dan jika bukan karena hidayah/ syafa’at maka akan sulit keluar dari kesesatannya. Bagi thoriqin bisa berhenti ditengah jalan/berhenti karena kelemahamannya thoriqin ialah mempunyai sifat malal/penjemu/pembosan atau berhenti karena terpesona akan hijab dimana hijab itu memancar keelokan dan keistimewaan dari hasil thoriqoh dan ibadahnya yang akhirnya tidak sedikit orang yang menjadi dukun karena terpesona dengan karomahnya. Banyak orang yang diberikan karomah namun belum tamkin Istiqomahnya yang akhirnya menjadi hijab bagi perjalanannya. 

Kalian harus sadar bahwa kalian diangkat dan turun pelan pelan oleh karenanya bersabarlah. Bapak tau betul di antara kalian banyak yang tarikus syariat namun tolong jangan sampai kalian lepas dari bimbingan agar jejek sedikit demi sedikit agar mencapai Baqa sebagaiman kisah perjalanan Rasulullah SAW dimana pada fase madinah beliau menerapkan syariat dengan baik dan benar dan juga hakekat dengan lurus dan benar. Jangan karena kalian merasa telah diberikan anugerah pemahaman kemudian kalian acuh tak acuh. Istiqomahkan apa yang telah diberikan sesuai kaefiyat kaefiyat hingga akhrinya terbentuk dalam wujud akhlaqul karimah yaitu orang orang yang sudah mencapai maqom Baqa. 

Maqam Fana dan maqam Baqa di sisi Allah SWT lebih tinggi derajatnya baqa. Fana hanya pada wilayah ke diri dan acuan dasarnya ialah kalimat “Laa ilaha Illallah” sedangkan maqom Baqa meliputi syahadatain bukan sekedar “Laa ilaha illallah” namun termasuk juga “Muhammadur Rasulullah” sehingga menjadi “Laa ilaha illallah muhammadur rasulullah” dan inilah orang yang dijamin oleh Allah SWT dalam Hadis Qudsi : 

"Barangsiapa yang datang kepada-Ku dengan Bersyahadat bahwa Tidak ada Tuhan kecuali Allah, maka sesungguhnya ia telah masuk ke dalam benteng-Ku, dan barangsiapa yang telah masuk ke dalam benteng-Ku, maka ia aman daripada azab-Ku."

Bahwa Barangsiapa yang datang kepada-Ku dengan Bersyahadat bahwa Tidak ada Tuhan kecuali Allah dan ditambahkan Muhammad Rasulullah bagi umatnya, maka sesungguhnya ia telah masuk ke dalam benteng-Ku,

Kata “hishni” disini secara leterlek ialah benteng namun yang dimaksud ialah masuk kekerajaan-Ku, istana-Ku, wilayah-Ku dan bagi yang sudah masuk ke kerajaan-Ku, istana-Ku, wilayahku maka aman dari bentuk penderitaan lahir dan batin. 
Contoh :
Jika kalian sedang mengamalkan tauhid dan hakekat kemudian kalian menerima ujian dan cobaan maka kalian akan lebih nyaman dan piawai dalam mencari solusinya ketimbang orang orang awam yang belum memahami tauhid dan hakekat.

Bahwa siapapun diantara kalian yang sudah diangkat derajatnya dan ditarik Allah SWT maka berpegang teruslah pada bimbingan Mursyid dan istiqomahlah. 

Kalian boleh melakukan apa saja selama dalam koridor dimana kalian tetap istiqomah menuju kepada Allah, syuhud dan musyahadah dan memahami tauhid. Paling tidak dalam kegiatan apapun kalian di awal dan akhirnya kalian ingat Allah SWT. Hakekat rejeki yang halal thoyib yaitu saat rizki diterima berkata Alhamdulillah dan melakukan awalnya dengan bismillah. Jadi minimal dalam kegiatan diawali dengan bismillah dan diakhiri dengan hamdalah sehingga kalian tidak putus berkahnya. Hakekatnya semua kegiatan yang diawali bismillah dan diakhiri dengan hamdalah ialah ibadah. 

Berpeganglah pada bimbinan agar tidak terpelanting. Siapapun yang tidak berpegangan pada Mursyidnya maka akan terlunta lunta karena perjalanan menuju kepada Allah SWT sangat amat licin. Maka dari itu bagi yang sudah benar cara bersyahadat, pengamalan penyaksiannya sudah benar minimal awal bismillah dan diakhiri hamdalah maka masuk ke dalam benteng Allah SWT dan tidak akan mendapatkan penderitaan bahkan mendapatkan kesitimewaan disisi Allah SWT. 

Setiap kegiatan kalian diawali dengan basmalah dan diakhiri hamdalah dalam segala hal apapun setidaknya jika kalian ingin jalan kalian pandang dulu kepada Allah SWT dan diakhiri kepada Allah SWT, kalian menerima sesuatu diawali kepada Allah SWT dan diakhiri kepada Allah SWT. Dan seharusnya sudah diamalkan oleh kalian semua yang sudah diangkat yang sudah diberikan pemahaman yang leluasa. Oleh karananya saat kalian pertama kali kalian lihat, rasakan harus dikembalikan dulu kepada Allah SWT dan diakhiri dengan hamdalah. 

Contoh lain :
Shalat, khusyuk merupakan kesempurnaan shalat, bukan syarat syahnya shalat. Untuk mencapai derajat khsuyu minimal saat takbiratul ikhram kalian khusyu yaitu pusatkan seolah kalian berhadapan dengan Allah SWT jika pemahaman kalian baru sampai situ dan setelah selesai shalat dan salam kemudian membaca hamdalah. Saat setelah takbiratul ikhram kalian ingat sesuatu maka itu dimaklumi karena kalian masih salikin. Oleh karenanya bapak membiasakan setelah selesai shalat membaca doa radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa sebagaimana hadis :

‎مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا. غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ

“Siapa yang mengucapkan setelah mendengar azan: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa (artinya: aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha sebagai Rabbku, Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agamaku), maka dosanya akan diampuni.” (HR. Muslim)

Jadi, kembali lagi bahwa tentramkan dan tenangkan hati kita dan sadari maqom kedudukan kita bAhwa kalian telah diangkat oleh Allah SWT melalui Mursyinya yaitu dengan diberikan pemahaman tauhid yang sangat luas, mengerti dan memahami tentang zat wajibul wujud. Maka apabila telah memahami zat wajibul wujud kemudian memahami semua termasuk tauhidul af’al, tauhidul asma, tauhidus sifat, maka pelan pelan dan tetap berpegangan dalam bimbingan hingga kalian napak menjadi orang orang yang mencapai maqom baqa billah bukan sebatas fana. Saat diangkat pertama ialah maqom fana  sebagaimana anai anai/laron saat melihat cahaya (Laa ilaha illallah) namun harus dilanjutkan dengan muhammadur rasulullah. Orang yang hanya memakai Laa ilaha Illallah maka akan fana saja dan ini sah sah saja namun jangan coba coba ia ada dilingkungan masyarakat dan jangan mengklaim jasmaniahnya karena kelakuannya jarang dan harus terpisah. Sedangkan manusia itu berkomunitas dan sosial yang saling membutuhkan dan bersinergi yang berarti mau tidak mau harus mengikuti contoh/uswahnya yaitu Rasulullah SAW sehingga setelah “Laa ilaha illallah” harus dilanjutkan “Muhammadur Rasulullah” dan itulah wujud yang akan menjadi uswah hingga sampai pada puncak diri kalian menjadi orang islam, yng menjadi orang yang memahami tauhid dan hakekat yaitu akhlaqul karimah. 

Jadi hakekat agama ialah ada di dalam kalian ada akhlaqul katimah. Dan inilah sebagaimaa perintah “takhollaqu bi akhlaqillah” atau berperangai kamu dengan akhlaq Allah. Maka berperangai dengan akhlaq Allah wujudnya ialah saat Allah menyatakan dalam firman-Nya :

‎وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al Qalam ayat 4)

Maka akhlaq yang sangat agung ialah dimana di dalamnya mempunyai sifat rahman danrahim yaitu mempunyai cinta kasih yang tulus dan mengalir, mengasihi sesamanya, dan menyayangi sesamanya dalam arti yang seluas luasnya.

“Bahwa tidak bisa dinilai tentang nur Allah yang masuk ke dalam hati setiap orang kecuali yang bisa dilihat kesempurnaan rahasia dirinya ada di dalam alam malakut”. (Hikam Nomor 253)

Maksudna ialah tidak bisa inilai dalam arti besar kecilnya atau istimewanya atau apapun juga. Maka saat kalian mendapatkan anugerah itu maka tidak akan bisa dinilai dalam hal apapun dan juga tidak bisa dinilai menjadi tanda tanda kecuali akan bisa dilihat tanda tandnya yaitu bisa dilihat kesempurnaan dirinya pada alam malakut. Tidak ada yang mengenal manusia selain manusia. Tidak ada yang mengenal binatang kecuali binatang. Tidak ada yang mengenal arifin billah kecuali arifin billah, tidak ada yang mengenal aulia kecuali aulia, tidak ada yang mengenal allah kecuali allah. Maksudnya ialah bahwa jika kalian ingin mengenal binatang maka kalian harus masuk ke wilayah binatang minimal jiwa kalian menyatu dengan binatang. Jika kalian ingin mengenal Allah SWT dan sifat sifatnya maka jadilah kalian tuhan diantara organ tubuh kalian yaitu kalian mengatur atau menjadi pemimpin diantara organ kalian. 
_______________

Dirangkum oleh: Himmah Hizboel