RANGKUMAN KHUTBAH JUM'AT MURSYID AKMALIAH, 01 Desember 2017 / 12 Rabiul Awal 1439H


Sabtu , 02 Desember 2017


Pesantren Akmaliah Salafiah
Jumat, 01 Desember 2017 / 12 Rabiul Awal 1439H

Tepat hari ini 12 Rabiul Awal merupakan Milad Nabi Muhammad SAW dimana hampir 1.500 tahun yang lalu lahir seorang insan kamil, seorang uswah yang merevolusi peradaban manusia mulai dari peradaban manusia saat itu yang disebut jaman jahiliyah hingga akhirnya menjadi manusia seutuhnya, manusia yang istimewa bukan lagi jaman jahiliah tetapi ialah jaman yang disebut akhlaqul karimah. 

Kemudian hingga sampai pada umat akhir zaman, umat sekarang kita banyak sekali menjadikan moment milad Nabi Muhammad SAW di-ceremonial-kan. Terlepas ceremonial maulid nabi itu menjadi kontroversi diantara mereka tetapi yang jelas itu adalah sebuah media dakwah memberitahukan, memperingatkan bahwasannya ada seorang revoluisoner peradaban manusia yang membangun peradaban manusia bahkan diakui oleh seluruh umat manusia bukan hanya umat islam saja dan Dia lah yang disebut Muhammad bin Abdillah, Rasulullah, Nabi yang disebut "khataman nabiyyan", Nabi yang disebut penghabisan dan tidak ada lagi nabi setelah beliau.

Terlepas dari itu semua mari kita ambil hikmah dari maulid Nabi Muhammad SAW bahwa orang-orang yang menjadi pengikutnya ialah sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat Al Fath ayat 29 : 

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar".

Yakni Muhammad itu Rasulullah SAW dan orang-orang yang besertanya keras terhadap kekufuran tetapi diantara mereka sesama saudara saling mengasihi dan menyayanginya bukan saling menuding menyesatkan, itulah hakekat islam yang sesungguhnya orang telah mencapai hakekat islam bukan sebatas islam di permukaan. 

Jadi Nabi Muhammad SAW sudah jelas adalah utusan Allah yang terakhir dan tidak ada nabi lagi setelah beliau kecuali adalah yang disebut warosatul anbiya / pewaris nabi. Jika ada yang mengklaim dirinya sebagai Nabi setelah beliau berarti itu adalah penyelewengan dan pelecehan agama. Beliau adalah khataman nabiyyin dan beliau adalah uswatun hasanah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Dengan kata lain, orang yang beragama ialah orang yang berakhlaqul karimah. Sehingga bohong besar jika ada orang yang mengklaim dirinya adalah orang islam sementara dia tidak mempunyai akhlaqul karimah. Seperti apa orang yang disebut mempunyai akhlaqul karimah? Pertama ialah saling mengasihi antara yang satu dengan yang lainnya, tidak memiliki perasaan iri/dengki, hatinya selalu bersih bahkan saling mendoakan sesuai dengan ajarannya ialah setiap kita berjumpa dengan saudara kita selalu mengucapkan "Assalamualaikum", itu adalah kalimat doa bukan sebatas kalimat seperti selamat pagi/siang/sore/malam. Ini adalah islam yang sesungguhnya.

Jadi orang-orang yang berserta dengan Rasulullah itu keras terhadap kekufuran (sebagaimana surat Al Fath : 29) tapi bukan keras terhadap kekufuran yang diluar diri tetapi kekufuran yang ada didalam diri kita. Kita tidak ada mentolerir diri kita apabila ada hentakan-hentakan yang sifatnya ingin mengingkari firman Allah, ingin mengingkari perintah-perintahNya artinya kembali kedalam diri kita untuk selalu instropeksi/muhasabah diri. Orang yang paling baik dan paling istimewa menurut beliau ialah orang-orang yang mampu menundukan hawa nafsunya

Jadi disebutkan bahwa intelektual muslim, orang islam yang sesungguhnya, orang yang selamat ialah orang-orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya bukan orang yang ilmunya hanya sebatas wacana dan narasi serta merasa ilmunya paling tinggi.

Bagaimana cara untuk mengetahui hawa nafsu kita? Ini perlu pengkajian khusus di dalam ilmu yaitu ilmu tauhid dan hakekat dimana ia mengetahui persis tentang kondisi dirinya, nafsu-nafsu yang ada pada dirinya terutama ialah nafsu yang berpotensi kebinatangan, nafsu kesetanan bahkan nafsu keiblisan karena memang didalam diri kita ada potensi nafsu-nafsu tersebut.

Oleh karena itu orang yang benar-benar menghormati Nabi Muhammad SAW berarti menjunjung tinggi tentang perintah-perintahnya dan juga sekaligus memberikan contoh artinya bahwa kita bisa menjadikan uswatun hasanah di lingkungan terdekat/keluarga/anak/keturunan. Bukan malah mendorong anak-anak kita ke dalam neraka dengan mencibirkan/menyinyirkan orang lain bahkan mendukung pada saat anak-anak kita membenci seseorang karena itu akan menjerumuskan anaknya ke neraka. Menjadi uswatun hasanah contoh yang baik yang disebut dihadist tadi bahwasannya beliau diutus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.

Akhlaq yang mulia ialah dimana akhlaqnya itu keras terhadap kekufuran yang ada di dalam diri sehingga muncullah cinta kasih di antara kita. Bahkan dalam hadist dinyatakan : 

‎عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ خَادِمِ رَسُوْل الله عَنْ النَّبِيقَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, khadim (pembantu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau berkata, “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”.

Berdasarkan hadist tersebut, kita bisa lanjut ke dalam diri kita :

  1. Benarkah kita mencintai Allah dan Rasul-Nya ? 
  2. Benarkah kita mencintai Allah dan Rasul-Nya sama dengan apa yang kita cintai disekitar kita?
  3. Benarkah kita mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi dari segala apapun yang ada di muka bumi ini termasuk diri kita sendiri ?

Kecintaan kita terhadap Rasulullah itu tidak sebatas membaca shalawat saja melainkan dengan cara kita menjadi penerus rasul dengan meneruskan ajaran beliau minimal ke keluarga kita. Tidak harus kita menjadi kyai, tidak harus kita menjadi ustad tetapi kita menjadi seorang imam, kakak, teman di komunitas dengan mencontohkan yang terbaik menurut Allah dan Rasul-Nya.

HIKMAH DARI MAULID NABI MUHAMMAD SAW : 
Dimana kita memunculkan contoh-contoh akhlaqul karimah karena puncaknya orang yang beragama ialah berakhlaqul karimah.

Semoga kita golongan orang-orang yang diberikan Allah kekuatan ilmu, kemampuan dan munculnya akhlaqul karimah didalam keseharian kita, amin ya robbal alamin.