RANGKUMAN KHUTBAH JUM'AT MURSYID AKMALIAH, 06 Oktober 2017


Jumat , 06 Oktober 2017


Pesantren Akmaliah Salafiah
Jumat, 06 Oktober 2017/16 Muharam 1439H
_______________

Jangan sampai kita menjadi orang yang selalu merasa bahwa kebaikan kita lebih besar dibandingkan dengan kebaikan orang lain. Dan jangan pula kita merasa bahwa keburukkan orang lain itu lebih jelas/besar dibandingkan keburukkan diri kita. Karena itu adalah hal yang salah. Sebaiknya kita lebih memperhatikan tentang diri kita sendiri.

Allah menjelaskan dalam firman Nya Q.S. Adz-Dzariyat ayat 21 :

‎وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلا تُبْصِرُونَ 
“Dan (juga) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?"

Di dalam hadist juga dijelaskan bahwa "Perhatikan juga hisab tentang diri kita sendiri sebelum di hisab oleh Allah SWT"

Arti menghisab disini ialah instropeksi, kembali kita melihat diri kita (MUHASABAH DIRI). Sejauhmana kita mengenal diri kita sendiri karena manakala kita sudah mengenal diri kita sendiri kita akan mudah melakukan apa saja. Diri kita itu bisa diibaratkan sebuah area kalau ini adalah sebuah area. Kalau disebut area adalah tempat dimana kita harus bertempur. Dimana jika kita tidak menguasai area tersebut maka kita akan selalu kalah dalam pertempuran. Tetapi jika kita menguasai area tersebut maka apapun yang terjadi kita bisa mengetahui bagaimana cara mengatasinya. Sehingga mengetahui medan, area, wilayah itu sangat penting didalam melakukan perperangan yang ada didalam diri kita khususnya. Perang disini ialah melawan setan-setan, nafsu-nafsu yang ada didalam diri kita sehingga kita  harus mengenal diri kita sendiri agar bisa melawan nafsu-nafsu yang ada didalam diri.

Contoh analogi : Jika suatu negara berperang tetapi tidak mengetahui areanya, tidak kenal medan perangnya maka akan mudah kalah dan akan mudah di hancurkan oleh lawan.

Nafsu yang ada didalam diri kita itu bisa dalam wujud apa saja, bisa berwujud setan, jin dan lain sebagainya. Tetapi kebanyakan orang tidak paham dan tidak mengerti tentang hal tersebut. Kalau kita tidak paham akan menjadi persoalan terlebih lagi jika kurang ilmunya yang akhirnya akan bermitos bahwa setan itu gaib. Hanya orang-orang yang tidak tahu dan tidak paham yang mengatakan bahwa setan itu hanya sebatas ghoib. Karena jika orang yang paham dia akan mengikuti firman Allah SWT sebagaimana yang telah dinyatakan dalam surat QS. Az-Zukhruf ayat 62 :

‎وَلَا يَصُدَّنَّكُمُ ٱلشَّيْطَٰنُ ۖ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh syaitan; sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Mungkin yang dimaksud kebanyakan orang awam adalah dedemit yaitu dari bangsa jin dan jantari. Sementara yang dikehendaki Allah SWT dalam firman-Nya tersebut ialah bahwa setan itu ada di dalam diri kita dan setan itu adalah musuh yang nyata, yang jelas, yang sebenarnya bisa kita lihat. Namun penglihatan kita bukan dengan kasat mata tetapi dengan ilmu. Dengan ilmu maka kita bisa melihat. Maka ilmu itu disebut bashirotul qolbi yaitu penglihatan mata hati. 

Memang berat memerangi hawa nafsu karena ini adalah jihadul akbar. Perang yang paling besar menurut Rasulullah SAW ialah memerangi hawa nafsu. Sehingga hawa nafsu kita akan selalu menampakkan diri di tempat-tempat yang kita tidak paham dan kita tidak mengerti. Andai kita bisa mengenal diri kita sendiri tentang wilayah lahir dan batin sampai kedalaman jiwa dan hati maka kita akan mudah melawan hawa nafsu, mudah melawan syaiton-syaiton yang berbentuk hawa nafsu didalam diri kita. Tetapi jika kita tidak mengenal diri kita maka kita akan kalah  dan akan rusak oleh nafsu. Itu lah yang dikehendaki firman Allah SWT dalam surat Adz-Dzariyat ayat 21.

Oleh karenanya kita perlu membersihakan diri kita dari segala macam najis-najis, membersihan diri dari segala macam kotoran-kotoran, membersihkan diri dari segala macam dosa-dosa dan lain sebagainya. Tidak ada kemenangan seseorang kecuali adalah orang orang yang mau membersihkan hati dan jiwanya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah SWT Surat Al-A’la Ayat 14 :

‎قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ
Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman):

Membersihkan hati dan jiwa yaitu dengan cara mengingat Allah SWT atau berdzikrullah. Yang artinya kembali lagi bahwa orang-orang yang menang di dalam perjuangannya ialah orang-orang yang selalu mengingat Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT :

‎وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ
dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.

(Q.S Al-A’la : 15)

Contoh : Jika kita dimana saja mengingat Allah SWT dan yakin bahwa Allah SWT itu istimewa dan memiliki sifat Asmaul Husna. Maka niscaya kita tidak akan melakukan kemaksiatan walau tidak dilihat oleh orang lain, karena ingatan kepada Allah SWT itulah yang akan menjalankan jalannya dijalan yang benar. Meyakini bahwa Allah SWT Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Itulah yang di kehendaki Surat Al A'la ayat 15 bahwasannya orang-orang yang menang didalam peperangan itu adalah orang yang selalu ingat dengan Allah SWT. Jika tidak ingat kepada Allah SWT maka kita akan hancur dan akan di intimidasi oleh nafsu-nafsu yang ada didalam diri kita. 

Kita tidak sadar hawa nafsu itu adalah setan. Jangan kalian melihat atau memahami setan itu adalah wujud lain. Wujud yang ada dalam diri kita dalam bentuk nafsu itulah yang disebut setan. Nafsu dalam bentuk keinginan-keinginan atau kemauan-kemauan atau bisa juga disingkat yang berarti dialog yang ada dalam diri kita. Dialog yang ada dalam diri kita itu semua adalah setan-setan, kalau yang baik disebut nafsu baik. Maka jika kita mengenali dengan baik dan benar yang ada dalam diri niscaya kita akan diselamatkan oleh Allah SWT dari dunia sampai akhirat amin ya robbal 'alamin.
_______________
Dirangkum oleh : Hani Hizboel