KHUTBAH SHALAT 'IDUL FITRI Pesantren Akmaliah Salafiah, Ahad, 25 Juni 2017


Ahad , 25 Juni 2017


Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Kita bersama-sama telah memahmi mengetahui bahwa Allah SWT mempunyai sifat rahman dan rahim dan juga fadhol,  keutamaan dan ketegasan kepada hamba hamba-Nya. Kita tidak perlu khawatir dengan berbagai macam dosa apapun bahkan yang besar sekalipun karena jika Allah SWT turun kepada hamba-Nya dengan rahman-Nya maka tidak ada artinya dosa sebesar apapun karena luasnya ampunan Allah SWT. Begitu juga di samping kita tetap harus menghadap kepada Allah SWT kita harus jeli dan waspada karena tidak boleh meremehkan dosa sekecil apapun karena saat Allah SWT turun dengan fadhol-Nya maka dosa sekecil apapun akan dihitung. 

QS. Al Zalzalah : 7-8

‎فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
‎وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

Itu janji Allah SWT. Namun jangan khawatir karena kita juga mempunyai rangkaian dimana kita bertapaut antara satu dengan lainnya mulai dari para habibullah, para Aulia hingga rasul/nabi yang mursal semua bertapaut hingga kita semua Insya Allah mendapatkan syafaat dan diselamatkan Allah SWT. 

 

Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Disini kita menghadap kepada Allah SWT namun hakekat diri kita harus ditetapkan bahwa kita harus mengetahui siapa sebenarnya tuhan kita karena banyak sekali orang yang mengaku dirinya islam namun tidak mengenal siapa tuhannya. Mungkin sebutan atau mengenal nama tuhannya iya, namun mengenal hakekat dari nama itu sendiri tidak karena Allah SWT tidak sekedar nama, sifat, wujud dalam imajinasi kita karena Allah SWT itu nyata, (ber) wujud, Allah SWT itu ada selalu bersama kita, ini yang diisyaratkan dalam : 

QS. Al Hadid : 4

‎ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Siapapun diantara kita yang beragama islam namun tidak mengenal tuhannya maka semua amalnya ditolak karena telah dinyatakan pula dalam :

‎لاَ تَصِحُّ الْعِبَادَةُ إلاّ بَعْدَ مَعْرِفَةِ الْمَعْبُوْدِ
“Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengetahui (mengenal Allah) yang wajib disembah”. (Al-Imam al-Ghazali)

Oleh karena itu isyarat-isyarat hadis seperti yang menyatakan :

"Awaluddin ma'rifatullah - awal mula orang beragama ialah mengenal Allah" (Hadis Qudsi)

Awal mula orang beragama itu mengenal Allah, ma'rifah kepada Allah SWT. Jika tidak ma'rifah maka keimanannya mudah dihancurkan, mudah ditukar, dilengserkan sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi banyak orang orang fasik dan munafik. Kita tidak akan lepas dari rangkaian bergumul dengan orang fasik bahkan tidak sedikit atau nyaris kebanyakan orang orang yang memegang tampuk kekusaan lebih cenderung kepada munafik/fasik.

 

Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Kita tidak perlu terlalu jauh memikirkan yang diluar atau menganalisa yang ada diluar diri. Mari kembali ke dalam diri untuk intropeksi agar memelihara diri dan keluarga dari segala bentuk malapetaka dunia maupun akhirat. Ini isyarat pula sebagaimana dalam QS. At-Tahrim : 6

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Yang dikehendaki bencana neraka disini ialah malapetaka baik di dunia maupun akhirat. 

 

Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Tidak sedikit orang yang mengabaikan berbagai macam yang sebenarnya penting untuk diri dan keluarganya bahkan perjalanannya ke akhirat. Mungkin banyak orang tua tidak peduli anaknya mengaji atau belajar agama dimana tetapi sangat peduli dengan pendidikan umum yang justru terkadang pendidikan itu menjurus ke sekuler. Andai saja ia dihitung maka konsentrasi pendidikannya lebih banyak ke umum ketimbang agama. Lalu bagaimana kita bisa mengharapkan mendapat anak yang soleh/solehah? sementara target kitah hidup di dunia adalah mendapatkan anak soleh/ solehah. Kesuksesan kita bukan karena anak yang sukses di dunia namun tatkala kita mendapatkan anak yang soleh/solehah sehingga tidak menambah kemunafikan dan kefasikan di muka bumi.

 

Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Kenapa banyak orang demikian (fasik, munafik)? Karena mereka tidak mengenal agama. Hanya mengenal agama di permukaan yang hanya merasa cukup dengan puasa, shalat, haji, zakat saja. Jangan merasa akan masuk surga hanya karena sudah bisa shalat, puasa sementara ia hanya melakukan hal hal yang lahiriah sementara niatnya sudah rusak karena tidak ada keikhlasan di dalam ibadahnya. Ruh ibadah itu ikhlas dan ikhlas hanya ada pada orang orang yang mengamalkan tauhid karena ikhlas itu yang diisyaratkan dalam QS. Al Ikhlas : 1-4

‎قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa.
‎اللَّهُ الصَّمَدُ
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

‎لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
‎وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".

Di dalam surat al ikhlas selalu menjelaskan tentang kalimat tauhid. Katakan bahwa Allah SWT itu ahad, esa, tempat bergantung bagi semua mahluk dan hanya Allah SWT zat wajibul wujud, zat segala-galanya.

 

Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Sudahkan kita mengenal Allah SWT? Bagi laki laki, apakah kalian sudah menjadi imam bagi keluarga? Bagaimana kalian mempertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT sementara kita sendiri belum tentu mampu bertanggung jawab atas diri sendiri. Jika kita tidak ada percaya diri untuk bertanggung jawab maka ikuti jalan orang orang yang menuju kepada Allah SWT. Ikutilah jalan orang orang yang menuju kepada Allah SWT. Jangan engkau biarkan dirimu tenggelam dalam lautan nafsu, dalam keinginan nafsu, karena ambisi nafsu pasti menghancurkan dan pasti akan membelokkan dari jalan Allah SWT.

 

Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Kalau ada orang yang sudah merasa cukup dalam shalat, puasa, zakat, haji sementara ia tidak mendalami dan memahami sesungguhnya agama itu maka  tunggu kehancurannya. Penyesalan di akhirat tidak ada artinya. 

 

Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Mari kita bersama sama untuk selalu tertuju hanya kepada Allah SWT. Bersegeralah menuju kepada Allah SWT karena tidak ada jalan lain. Dunia ini sementara dan yang kekal hanya di akhirat. Apakah mau menukarkan kehidupan yang abadi dengan kehidupan yang sementara? Apakah lebih suka dikuasai oleh nafsu? 

 

Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Ingat, nafsu lawwamah yang ada dalam diri kita hanya sekedar menghasut dan menganggap diri kita yang paling benar. Nafsu itu bersumpah dalam QS. Al Qiyama : 2

‎وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).

Nafsu itu yang sangat berbahaya. Oleh karenanya kenali diri kita. Jika kita tidak mengenali diri kita ini yang paling berbahaya. Ingat setelah kita mengenali diri kita maka kita akan mengenal tuhan kita.

"Man Arofa Nafsahu Faqod Arofa Robbahu - barang siapa mengenal dirinya maka akan mengenal tuhannya"

Berarti kita memang diharuskan mengenal tuhannya.

 

Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Ingat, didalam hadis qudsi menyatakan: 

“Aku adalah Perbendaharaan Yang Tersembunyi, Aku ingin dikenal,
maka Kuciptakan makhluk dan denganKu ia mengenalKu.”

Dengan kata lain dalam hadis ini meyatakan Allah SWT sengaja menciptakan kita karena Allah SWT senang untuk dikenal. Kalau kalian ingin mendapatkan ridho/senangnya Allah SWT, maka kita wajib mengenal Allah SWT. 

Kalau Allah SWT menurunkan kita ke muka bumi karena Ia senang untuk dikenal maka tugas utama kita ialah mengenal tuhannya. Maka orang hidup yang tidak mengenal tuhannya tidak ubahnya sepeti binatang dalam kehidupannya. Bahkan diterangkan dalam QS. Al Araf : 179 yaitu بَلْ هُمْ أَضَلُّ. Karena dalam QS. At Tin : 4-5

‎لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
‎ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ
Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
Aku ciptakan manusia sebaik baik umat tapi aku rendahkan lagi karena ia tidak bisa memegang amanat sebagai sebaik baik kejadian.

Dalam ayat lain dijelaskan : 

‎وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al A'raf : 179)

Mereka itu yang mempunyai hati dan akal tidak mampu memperhatikan kebesaran Allah SWT dimana ia diciptakan, bagaimana ia harus menjalani hidupnya. 

Mereka diberikan mata tetapi tidak bisa melihat kebesaran Allah SWT,  berlimpahnya nikmat. Sehingga ditanya oleh Allah SWT dalam QS . Ar Rahman : 77

‎فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Mereka dikasih telinga tidak mau mendengarkan firman Allah SWT, hadis rasul, fatwa para ulama, arifin billah

Maka Allah SWT langsung menekankan bahwa mereka lebih rendah dari binatang dan mereka itu orang orang yang lalai dari tuhannya.

 

Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Oleh karena itu mari kita bersegera untuk berlari menuju kepada Allah SWT tetapi bukan berarti kita mengabaikan usaha ikhtiar dalam dunianya. Boleh kita raih yang utama yaitu akhiratmu namun jangan kamu abaikan juga bahagianmu di dunia. Namun yang diutamakan ialah di akhirat . Namun kebanyakan manusia keliru dan lalai dari diri-Nya. Andai kita timbang ibadah kita dari pagi hingga malam itu baru seimbang antara palaha dengan dosa. Maka dari itu tidak ada jalan lain selain intropeksi. Sudahkah kita mengenal diri kita sendiri? Dengan diawali kita mengenal diri kita sendiri maka kita akan mengenal siapa tuhan kita. Apabila kita sudah mengenal tuhan kita itulah sesungguhnya hamba-Ku yang sebenarnya. Maka hamba yang akan dipanggil oleh Allah SWT ialah yang melalui proses melawan hawa nafsu. Hancurkan nafsu. Ada nafsu yang harus ditundukkan (amarah) dan ada nafsu yang harus dibunuh (lawwamah) karena penyakit hati itu yang harus dibunuh.

 

Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Apabila telah melalui proses melawan nafsu itu maka meningkatlah dan sampailah tanda tanda pada diri kita yaitu lapang dada, mudah memaafkan orang terutama di idul fitri ini. Tidak ada kata nanti bahkan yang belum datang meminta maafpun, ia akan memaafkannya. Itulah orang-orang yang sudah tentram hatinya, sunyi hatinya, yang mencapai pada derajat mutmainah. Apabila telah sampai derajat mutmainah maka Allah SWT akan memanggilnya .

QS. Al Fajr : 27-30

‎يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
Hai jiwa yang tenang.
‎ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
‎فَادْخُلِي فِي عِبَادِي
Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,
‎وَادْخُلِي جَنَّتِي
masuklah ke dalam surga-Ku.

Jika telah mendapatkan ridho Allah SWT dengan cara kita ridho atas ketetapan Allah SWT.

Hadis Rasulullah SAW :

Barangsiapa yang ridho (kepada ketentuan Allah) maka Allah akan ridho kepadanya.” (HR. Tirmidzi).

Ridho tentang ketetapan-ketetapan Allah SWT yang ada kita dalam kehidupan kita karena kita tidak bisa mengelaknya. Dalam kehidupan ada ujian dan cobaan dan nikmat, maka saat mendapatkan ujian dan cobaan harus bersabar, tatkala mendapatkan nikmat harus bersyukur. Pada saat mendapatkan ketetapan-ketetapan Allah SWT diluar nalar kita maka kita harus ridho atas qadha-Nya. Itulah hamba-hamba yang dikehendaki Allah SWT. Apabila telah ridho maka Allah SWT menyatakan dalam QS. Al Fajr : 29-30

‎عِبَادِي
Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,
‎وَادْخُلِي جَنَّتِي
masuklah ke dalam surga-Ku.

Orang orang yang menuju kepada Allah SWT mendapatkan dua surga yaitu surga dunia yaitu ma'rifah dan surga akhirat sebagaimana janji Allah SWT. Itulah yang sesungguhnya sebagaimana dalam QS. Ar Rahman : 46

‎وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ
Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.

 

Semoga kita, kalian semua mendapatkan fasilitas dua surga tersebut.

Amin amin Ya Rabbal 'Alamin