Dialog Interaktif ROPAS, Sabtu, 11 November 2017


Kamis , 23 November 2017


 

DIALOG INTERAKTIF RADIO ONLINE PAS
www.akmaliah.org bersama MURSYID AKMALIAH, CYECH MAULANA HIZBOEL WATHONY
Minggu, 11 November 2017/22 Shafar 1439H
TEMA : SYAHADAT BAGI MUSLIM, YA ATAU TIDAK?

_______________

Masalah syahadat ini memamg krusial namun juga ada yang kontroversi bahkan ada yang berani mengatakan bahwa tidak perlu syahadat karena orang yang sudah hidup di lingkungan islam. Terlepas dari itu semua bahwa andai kita membaca syahadatpun kita tidak dosa. Sebutlah kita salah membaca syahadat, itupun tidak dosa. Maksudnya ialah bagaimana bisa dikatakan berdosa sedangkan yang kita baca adalah syahadat? Kemudian syahadat disini juga terkait dengan penjelasan tentang syahadat disini ialahbterkait erat dengan firman Allah SWT dalam QS. Al Baqarah ayat 208 menjelaskan :

 
‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
 
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Dalam ayat tersebut yang dipanggil ialah orang-orang yang beriman yang disuruh masuk islam secara kaffah/sempurna. Kaffah berarti meliputi dan ayat ini tidak bisa ditolak dan diabaikan. Pengertian kaffah disini meliputi secara keseluruhan mulai dari cara, kehidupan, dan apapun yang dilakukan. Namun yang harus ditengarai disini yang yang dipanggil ialah orang orang yang beriman untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah. Jadi tidak boleh setengah setengah. Yang berarti mulai dari A-Z haruslah kaffah. Di dalam islam bahkan dikenal dengan rukun islam sebagaimana hadis “didirikannya islam atas 5 perkara yaitu membaca syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji bila mampu”. Yang dikehendaki dengan didirikannya islam atas 5 perkata yang pertama syahadat yang berarti tidak ada penolakan apapun bahwa disebut islam wajib membaca syahadat. Persoalannya ialah orang orang islam yang hidup di lingkungan islam dan sejak kecil melakukan pekerjaan islam Apakah tetap membaca syahadat? Membaca syahadat tidak ada pengecualian maksudnya ialah yang disuruh masuk islam secara kaffah ialah orang yang beriman. Siapapun yang mengimani Allah SWT ia berarti masuk islam. Dan siapa yang mau masuk islam maka harus membaca syahadat. Namun Apakah syahadat khusus untuk non muslim? Tidak! Karena ayat tersebut perintahnya kepada orang yang beriman, bukan kepada orang yang ingkar atau kafir (dalil naqli).

Dalil aqlinya ialah jika bisa melihat kondisi situasi masyarakat sebut saja komplek TNI, dimana ia sejak kecil berada di TNI, sekolahnya pun TNI namun ia tidak akan dinyatkan TNI jika belum diterima sebagai TNI dan dilantik sebagai TNI. Jadi tidak mungkin bisa ia menjadi TNI tanpa proses melamar dan bersumpah sebagai prajurit sekalipun ia adalah hidup dilingkungan TNI.
Atau misal ada seorang anak karyawan departemen agama yang lahir dan besar di lingkungan komplek pegawai departemen agama. Ia tidak serta merta sekalipun ia lahir dan besar di lingkungan departemen agama lalu ia secara otomatis menjadi pegawai departemen agama sebelum ia melamar dan diterim sebagai pegawai departemen agama. 

Sama halnya dengan islam bahwa islam bukanlah agama keturunan. Islam adalah agama umat. Jika islam adalah agama keturunan maka yang menjadi orang islam hanyalah orang yang lahir dan keturunan orang islam. Dan diluar islam tidak boleh masuk islam. 

Tidak akan disebut sebagai orang islam jika tidak melaksanakan rukun islam. Begitu juga tidak akan disebut orang yang beriman jika tidak mengimani rukun iman.

Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa manusia lahir ke muka bumi itu dengan fitrahnya sehingga tidak perlu lagi mengucap syahadat?

Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi. (HR. Abu Hurairah)

Jika Hadis tersebut dijadikan dalil maka harus secara keseluruhan karena hadis itu mengatakan semua teganrung kepada kedua orang tuanya. Jika orang tuanya benar mengarahkan anaknya untuk membaca syahadat maka benar anak itu menjadi islam. Jika tidak membaca syahadat maka anak tersebut bisa menjadi nasrani atau majusi atau lainnya. Jadi, jika Hadis tersebut dijadikan dalil tidak perlu membaca syahadat berarti seharusnya berlaku untuk semua orang secara otomatis menjadi islam. Semua manusia lahir dalam kondisi fitrah tanpa terkecuali. Sebagaimana Allah SWT berfirman : 
“Allah telah memuliakan anak cucu adam” ini tidak terkecuali kemuliannya dan kemuliaan disini tidak secara otomatis orang menjadi islam, maksud dimuliakan ialah dimuliakan dari mahluk mahluk lain. Makaud Fitrah dalam hadis tersebut ialah fitrah sesuai kondisi keadaan manusia sebagai khalifah fil ‘ard bahkan Allah SWT menyatakan “fii akhsani takwim” / sebaik baik kejadian dari sekian banyak mahluk".
_______________


DIALOG INTERAKTIF 

PENANYA : FIFI di London
Bapak, syahadat itukan masuk dalam rukun Islam no 1. Jika umat Islam yang lahir dari keluarga Islam memahami bahwa mereka sudah menjadi Islam secara otomatis dan belum pernah membaca syahadat sampai meninggal, maka bagaimana ibadah yang telah dilakukannya? Lalu siapa yg bertanggung jawab terhadap pemahaman tersebut, sedangkan ulama seharusnya bertanggung jawab untuk memberi pemahaman bahwa Islam adalah bukan agama keturunan/otomatis, jadi muslim jg wajib membaca syahadat.

PENANYA : NANIK SUSANTI di Hongkong
Bapak jika sampai meninggal belum mengucap kalimat syahadat meski lahir di keluarga muslim, bagaimana hukumnya bapak?

MURSYID
Orang orang terdahulu yang tidak tau bahwa syahadat wajib hingga meninggal dunia tidak sempat membaca syahadat yang diniatkan khusus untuk Allah SWT (bukan syahadat dalam shalat dan nikah) maka dimahfukan karena ketidaktahuannya. Yang menjadi persoalan adalah apabila pengetahuan ini sudah sampai padanya kemudian ia tolak, maka ia terkena hukum. Adapun orang orang yang tidak tahu termasuk ulamanya yang tidak paham, maka dimahfukan. Jadi orang orang yang terdahulu yang pemahamannya tidak sampai maka dimahfukan, kecual telah disampaikan maka ia terkena hukum, termasuk ulamanya dimahfukan jika memang tidak mengetahuinya. Namun, sebagaimana Hadits Abdullah bin Umar ra. Bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya". Itulah beratnya seorang ulama.

Membaca syahadat tidak harus didepan siapapun. Menyatakan niat khusus penyaksian seolah olah niat dihadapan Allah SWT. Jika membaca syahadat apakah amal yang lalu akan terhapus? Iya, secara otomasi seperti itu. Namun amal orang yang belum membaca syahadat itu tidak akan diterima oleh Allah SWT. Amal yang sedari dulu jika ingin dihitung maka hitunglah termasuk dosa dosa yang lalu. Kemudian bandingkan amal baik dengan dosanya, lebih banyak yang mana? Atau semua amal terdahulu tidak diterima namun semua dosa diampuni oleh Allah SWT karena barang siapa yang datang kepadaku dengan penyaksian tiada tuhan selain aku maka ia masuk ke dalam bentengku dan barang siapa masuk ke bentengku maka aman dari azab-Ku (Hadis Qudsi). Berarti dengan kata lain, orang yang membaca syahadat ia berduyun duyun masuk agama Allah SWT,  maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat (QS. An Nasr 1-3). Jadi siapapun yang membaca syahadat maka diampuni segala dosanya seolah olah ia baru lahir.  
_______________

PENANYA : FADLI dari Padang
1. Bagaimana cara menggiring akal seseorang yg merasa tidak perlu lagi baca syahadat karena ada yang mengatakan didalam sholatkan sudah baca syahadat.
3. Apakah orang yang menyaksikan orang non muslim yang membaca syahadat sementara dia belum baca syahadat apakah otomatis juga sudah membaca syahadat sebab mereka ikut mendengarkan.

MURSYID
1. Jika orang merasa sudah membaca syahadat di dalam shalat, ini keliru. Shalat itu pekerjaan dari rukun islam. Dikehendaki syahadat disini ialah rukun islam pertama dimana ia wajib membaca syahadat jika ingin menjadi orang islam. Yang membedakan ialah niatnya. Di dalam hadis disebutkan “setiap pekerjaan apapun tergantung niatnya”. Jika saat shalat membaca syahadat itu niatnya saat membaca tasyahud awal dan akhir. Tidak cukup hanya dengan membaca syahadat saat shalat karena membaca syahadat wajib diniatkan hanya karena Allah SWT. Membaca syahadat tidak perlu didepan siapapun, andai saja ada keluarga (Bapak, Ibu, anak) maka niatkan membaca syahadat hanya karena Allah SWT, tidak mengapa. 
2. Bukan otomatis masuk islam, namum semua mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Jadi baik yang membaca dan menyaksikannya akan mendapatkan ampunan Allah SWT.
_______________

PENANYA : ABU KHAIRI - kramat jati
Bapak, bagaimana hukumnya kita bermakmum dengan imam mesjid yang ada sekarang yang kita yakini dia belum syahadad atau teman kita yang tidak ngaji di akmaliah?

MURSYID
Shalat saja. Ini pentingnya berjamaah. Kalian yang pernah membaca syahadat sama saja melebur semua orang. Bukan berarti karena diimami oleh yang belum syahadat kemudian keluar dan tidak mau jamaah, tidak seperti itu. Kita juga harus husnuzhon terhadap orang yang menyatakan dirinya islam berarti dia sudah membaca syahadat. Jangan menduga duga. Andaipun imamnya belum membaca syahadat maka kalian yang sudah membaca syahadat akan meleburkan semuanya. Itulah pentingnya berjamaah, paling tidak mereka yang belum syahadat tertolong. Namun tidak boleh ujub dan sombong. 
_______________

PENANYA : PENYIAR
Terkait syahadat, ada yang mengatakan bahwa anak sahabat tidak membaca syahadat dan surat An Nasr itu ditujukan untuk orang non muslim yang diberikan hidayah Allah SWT yang akhirnya masuk islam. Bagaimana penjelasannya Bapak?

MURSYID
Kembali lagi ke ayat 208 QS. Al Baqarah dimana yang disuruh ialah orang yang beriman bukan orang non muslim. Disuruh masuk islam secara kaffah. Didirikan islam atas 5 perkara. Tidak akan disebut islam jika hanya 4 perkara. Jika dikaitkan QS. An Nasr itu adalah tatacara jika ada orang non muslim masuk islam maka kita bertasbih, bertakbir, beristigfar agar kita juga ikut mendapatkan ampunan. Rasulullah SAW saat ditanya mengenai islam, maka Beliau menjawab “membaca dua kalimat syahadat”. Membaca syahadat tidak bisa ditawar. Membaca syahadat dalam hati dengan niat hanya kepada Allah SWT itu sudah syah. 
_______________

PENANYA : MUSLIH WUMU di Pondok Gede
Bapak, Apakah orang yang bersyahadat kembali didepan Guru akan mendapatkan ampunan atas segala dosanya seperti non Muslim yang bersyahadat untuk masuk islam?

MURSYID
Siapapun yang membaca syahadat baik itu di hadapan orang tua, teman,  guru, semua diampuni oleh Allah SWT. Intinya membaca syahadatnya diniatkan hanya untuk Allah SWT.
_______________

PENANYA : AGUS SUPRIYATNA di Manado
Apakah kita harus mendakwahkan tentang cara syahadat kepada orang lain?

MURSYID
Mendakwah itu perlu. Jika sudah piawai dalam menyampaikannya itu lebih baik dan itu harus. Yang penting dakwahnya jangan menyebabkan menjadi fitnah karena cara menyampaikannya tidak benar yang akhirnya terjadi kesalahpahaman. Oleh karenanya kepiawaian dalam menjelaskan, berdakwah, menyampaikan itu penting. Misal cara menyampaikannya dengan menjelaskan sekeluarga yaitu Bapak, Ibu dan Anak sama sama membaca syahadat dengan niat hanya untuk Allah SWT agar Allah SWT mengakuinya sebagai orang islam itu sudah syah, tidak perlu dihadapan orang tertentu karena islam bukan sekte/golongan. Intinya ialah sudahkah kita membaca syahadat yang diniatkan hanya untuk Allah SWT agar diakui sebagai orang islam disisi Allah SWT?
_______________

PENANYA : IKHWANUDDIN di sragen
Di kampung saya ada amanah untuk memegang jamaah ibu ibu mengenai bai'at islam (dengan bacaan syahadat dll) mereka saya terus terang belum berani karena ada orang yang lebih berhak, yang saya tanyakan apakah sudah terlepas tanggung jawab saya sebagai dituakan jamaah ibu ibu kalau saya mengarahkan mereka bersyahadat pada orang yang lebih berhak tadi?

MURSYID
Itu salah dan keliru. Tidak ada hak dan berhak disini. Dihadapan siapapun dan dimanapun boleh, tidak harus dihadapan guru. Siapapun yang ada kesempatan membaca syahadat, baca saja. Jika ingin dihadapan orang tertentu ya silahkan. Jadi tidak ada Kewajiban membaca syahadat dihadapan orang tertentu. Andaipun suami istri bareng bareng membaca syahadat dengan anak anaknya pun sudah syah. 
_______________

PENANYA : HARIRI di Kramat Jati
Bolehkan orang mempersiapkan alat pengkafanan untuk orang yang masih hidup?

MURSYID
Tidak mengapa. Artinya ialah banyak orang tua yang dulu karena sakit kemudian menyuruh anak anaknya untuk mempersiapkan kain kafan dan lainnya bahkan ada juga seorang kyai yang sibuk mengurusi tanah sampai akhirnya ia meminta izin satu kotak tanah tersebut diperbolehkan untuk dijadikan makam dirinya dan istrinya dan kemudian ia menyuruh anaknya untuk membeli kafan, saat anaknya membeli kafan ternyata ia meninggal dunia dan itulah isyarat dari orang alim. Mungkin Bapakmu itu sudah mempunyai isyarat sehingga menyuruh kamu untuk mempersiakan kain kafan dan itu sah sah saja. Contoh lain lagi, ada bapak bapak umroh/haji yang mewasiatkan kepada keluarganya agar menyimpan kain ihramnya disimpan untuk kain kafannya nanti. 
_______________

 

Dirangkum oleh : Himmah Hizboel