RANGKUMAN KAJIAN SABTU MALAM, 21 Oktober 2017/02 Shafar 1439H


Sabtu , 21 Oktober 2017



Kitab Siyarus Salikin dan Ihya 'Ulumuddin
Pesantren Akmaliah Salafiah
Sabtu, 21 Oktober 2017/02 Shafar 1439H

________________

Untuk menuju kepada Allah SWT syaratnya sama seperti syarat untuk menuju rumah Allah SWT. Orang yang benar benar mengabdi kepada Allah SWT/Ahlut Thoriqin/ Salikin bahkan seluruh umat pada hakekatnya semua sedang berjalan menuju kepada Allah SWT. Berjalan menuju Allah SWT melalui linta waktu dimana saat tertentu kita akan dipaksa menemui/berjumpa dengan Allah SWT yaitu dengan habisnya masa hidup kita di dunia. Berjumpa dengan Allah SWT dapat melalui rahmat Allah SWT atau murka Allah SWT. Orang yang berjumpa dengan Allah SWT dengan murka-Nya maka meninggalnya su'ul khotimah. Adapula yang berjumpa dengan Allah SWT dengan rahmat-Nya yaitu mereka yang hidup di dunia dengan mengabdi, istiqomah menuju kepada Allah SWT dan tidak melulu melawan hawa nafsunya. Jadi hakekatnya kalian mau atau tidak tetap akan menuju kepada Allah SWT. Jadi, daripada kalian menuju Allah SWT dengan murka Allah SWT maka tatalah diri kalian agar menuju kepada Allah SWT dengan cara mengabdi kepad-Nya hingga mendapatkan rahmat dan ridho-Nya.

Di dalam hidup ini jika tidak mempunyai pembimbing maka sama saja masuk golongan orang yang tidak punya pemimpin atau tidak mempunyai golongan saat menghadap kepada Allah SWT. Mempunyai pemimpin/pembimbing agama itu hukumnya wajib. Orang umum percaya diri dengan sudah mengaji melalui youtube, buku akan masuk surga padahal tidak akan mungkin masuk surga. Jika ada yang berkata bahwa yang mengetahui amal diterima atau tidak hanya Allah SWT maka itu merupakan perkataan bodoh karena di dalam firman Allah SWT jelas memfirmankan bahwa Allah SWT hanya menerima ibadah hamba yang dengan ikhlas mengerjakannya. 
Perkataan Umar bin Khattab ra :
“Hisablah dirimu sendiri sebelum kamu dihisab di hadapan Allah SWT"

QS. Al Isra ayat 14

 

‎اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا
"Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu".

 

Jadi, orang yang menyandarkan bahwa amal hanya Allah SWT yang mengetahui diterima atau tidak itu adalah perkataan orang yang bodoh untuk membenarkan nafsunya. Kalian bisa menilai ibadah kalian diterima atau tidak yaitu sesuai firman Allah SWT bahwa ibadah itu dengan ikhlas. Namun orang yang mengatakan ibadahnya dengan ikhlas itu tandanya tidak ikhlas. Allah SWT hanya menerima ibadah yang ikhlas. Ikhlas itu bertingkat tingkat.

Jangan percaya diri jika tidak mempunyai pembimbing lalu karena merasa sudah shalat puasa zakat kemudian berhak masuk surga. Analoginya, guru dalam sekolah boleh banyak, namun wali kelas hanya satu. Begitu juga guru boleh banyak namun Mursyid hanya satu. Namun baik yang memberikan hidayah maupun yang menyesatkan hanyalah Allah SWT. Apabila orang sudah disesatkan maka tidak akan ada yang bisa memberikan hidayah. Apabila sudah diberi hidayah maka tidak ada satupun yang bisa menyesatkan. Andai Bapak ngotot sekalipun untuk memberikan pemahaman maka tetap saja tidak bisa. Beberapa kisah nabi mengenai hidayah Allah SWT :

  1. Nabi Ibrahim yang mempunyai ayah yang berbeda akidah
  2. Nabi Nuh, mempunyai anak yang bernama An'am yang durhaka kepada Allah SWT.
  3. Nabi Luth, memiliki istri yang durhaka kepada Allah SWT.
  4. Abu Tholib, paman Rasulullah SAW yang sangat mendukung perjuangan Rasulullah SAW namun tetap tidak mau mengucapkan dua kalimat syahadat hingga meninggal sekalipun secara batin ia mengakui kebenaran ajaran Muhammad SAW.

Jika kalian mempunyai kecenderungan hati untuk mencintai kepada seorang Mursyid/Guru, maka peliharalah karena itulah petunjuk oleh Allah SWT sebagaimana dalam QS. Al Kahfi ayat 17 :

 

‎وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَت تَّزَاوَرُ عَن كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَت تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِّنْهُ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا
Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.

 

Jika kalian mendapatkan hidayah dan anugerah maka peliharahlah, jangan sampai runtuh dan rusak. 

Mencari seorang Mursyid/pembimbing di dalam thoriqoh itu wajib bagi orang orang yang menuju kepada Allah SWT walaupun orang itu sebesar-besar ulama fiqih sekalipun dan berbaiat kepadanya. 

Contoh : 
Ulama sebesar apapun jika belum memahami dan mengerti thoriqoh maka ia tetap wajib mencari seorang Mursyid dan berbaiat sekalipun ia ahli tafsir Al-Quran. Jika ia tidak mempunyai perjalanan menuju kepadanya, akhirnya hanya wacana bahkan penafsiran Al-Qurannya pun wacana yang tidak bisa diamalkan dan dijabarkan dirinya dimana perjalanan menuju kepada Allah SWT sebagaimana saat Allah SWT mengajak untuk berjumpa dengan-Nya di dalam QS. Al Kahfi ayat 110 yaitu dengan beramal shalat dan tidak syirik dengan seorang juapun.

 

‎قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

 

Barang siapa yang tidak mempunyai Mursyid/Syeikh maka syaitan itulah guru/Syeikhnya. 

Contoh :
hanya membaca ilmu dari sebuah buku dan tidak mempunyai Mursyid untuk mentashihkan pemikiran sehingga kesimpulan kesimpulannya hanya dari pemikiran pemikiran wahamnya, inilah yang dimaksud gurunya ialah syaitan.

"RUKUN MENUJU KEPADA ALLAH SWT YANG KELIMA YAITU SAUDARA SEPERJALANAN"

Mencari sahabat dunia akhirat itu susah. Teman yang baik ialah dimana berani mengungkapan kebenaran dan berani menegur saat kalian salah. Dan ia tidak peduli bahkan ia akan lebih dekat saat kalian dalam keadaan terpuruk malah jika kalian sedang sejahtera ia akan menjaga jaraknya.

Istri boleh melanggar keinginan suami apalagi suami mengajak untuk melanggar syariat. 
Contoh :

  1. Suami melarang istri untuk mengaji sedangkan dirinya tidak bisa membimbing istrinya untuk mengaji. Namun jika suaminya mampu membimbing istrinya mengaji, maka istri wajib nurut keinginan suami. 
  2. Suami mengajak istrinya berbuat maksiat

Teman yang baik ialah teman yang bisa memberikan masukan saat kalian salah. Berkomunitaslah pada komunitas yang baik. Jika kalian mempunyai mahabbatul 'ulama maka kalian akan tertular ilmunya. Namun jika kalian berteman hanya dengan orang yang berwacana maka yang kalian dapat hanya wacana bahkan hanya angan-angan dan mudah menghukumkan orang lain bid'ah/kafir/munafiq karena mereka tidak mempunyai kepiawaian dalam bersikap. 

Uswah akhlaq Rasulullah SAW :
Rasulullah SAW tiap melewati jalan selalu diludahi oleh orang kafir namun Beliau selalu sabar hingga akhirnya orang kafir itu sakit. Kemudian Rasulullah SAW menjenguknya dengan membawakan roti dan obat-obatan. Seketika saat dijenguk Rasulullah SAW, orang kafir itu langsung masuk islam dan mengabatkan kepada masyarakat bahwa Muhammad berakhlaq mulia dan berita yang disebarkan oleh Kaum Quraisy itu tidak benar. Inilah yang menjadi asbabun nuzul QS. An Nasr. Dicintainya islam karena akhlaq para muslimin. Begitu juga jika kalian ingin mengajak orang lain mengkaji di Akmaliah maka haruslah kalian berakhlaq mulia. 

Teman atau saudara seperjalanan yang paling baik ialah suami/istri, orangtua/anak. Maka dari itu jadilah istri yang nurut oleh suami selama tidak melanggar syariat islam. Suami menjadi pemimpin yang bijak bagi istrinya. Guna teman seperjalanan ialah untuk berdiskusi dan saling mengingatkan. Teman yang paling baik ialah teman yang tidak mengharapkan sesuatu dari kalian kecuali mengajak kebaikan dan itulah yang dijadikan untuk menuju kepada Allah SWT.
_______________


Dirangkum oleh : Himmah Hizboel