Rangkuman Kajian Jum'at Malam, 26 Agustus 2016


Jumat , 30 September 2016


Pesantren Akmaliah Salafiah
Kitab Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Athoillah)

Jika mengkaji ilmu tauhid dan hakekat yang merupakan intisari dai kedalaman agama Islam yang sesungguhnya maka akan dikatakan tercela atau aneh karena masyarakat umum mengkaji Islam hanya pada permukaan saja tidak di kedalaman Islam itu sendiri sedangkan Islam dapat mengubah paradigma hidup setiap manusia sehingga menjadikan ia melakukan apa saja atas dasar nilai-nilai Islam. Masyarakat umum menganggap menjadi Islam cukup dengan melakukan shalat, puasa, zakat, haji saja padahal belum membaca syahadat (rukun Islam yang pertama), padahal membaca syahadat telah dinyatakan dalam rukun Islam, terdapat pula dalam Al Quran dan Hadist. Karena merasa telah dilahirkan dalam lingkungan Islam sehingga lupa untuk mengucapkan syahadat yang diniatkan hanya untuk Allah SWT. Orang-orang non muslim masuk Islam dengan membaca syahadat sedangkan yang lahir dalam lingkungan Islam belum tentu bersyahadat padahal Islam bukanlah agama keturunan. Analoginya adalah seorang anak yang dilahirkan dalam keluarga tentata, sekalipun besar dalam lingkungan tentara tidak serta merta dia menjadi perwira jika tidak melamar sebagai tentara.

Allah sendiri pun bersyahadat di dalam firman-Nya dalam QS. Ali-Imran : 18

‎شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

QS. Al-Baqarah : 208

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu".

Syahadatain :

* Syahadat tauhid :


أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

* Syahadat rasul :

‎ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Hanya orang orang yang mendapat petunjuk dari Allah SWT yang mau mengucapkan syahadat hanya untuk Allah SWT. Pembacaan syahadat tersebut dapat disaksikan Mursyid dengan 2 orang saksi ataupun dihadapan orang tua.

Jika telah mengkaji ilmu tauhid dan hakekat namun tidak melaksanakan janji yang telah diucapkan dihadapan Mursyid (talqin islam) maka azab Allah SWT sangat besar, baik dalam wilayah lahiriah dan bathiniah (lebih bahaya dalam wilayah bathiniah karena dapat dihilangkan keimanannya). Sedangkan bagi mereka yang menjalankan janjinya yang telah diucapkan di depan Mursyid, maka Allah SWT akan memberikan limpahan kebaikan dunia dan akhirat.

QS. Al Fath : 10

‎إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.

QS. Al Fath : 18

‎لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).

Pengamalan kitab-kitab Ad Durun Nafis ataupun Al Hikam tidak dapat diamalkan begitu saja tanpa energi ruhaniah (yaitu energi "mazdub bisyaikh") dari seorang Mursyid sehingga mudah untuk memahaminya. Jika orang mengkaji ilmu tauhid dan hakekat tanpa bimbingan dari Mursyid maka yang menerima ilmu akan mengalami "tarikus syari'at" sedangkan orang yang mengkaji ilmu tauhid dan hakekah akan memancar sifat "akhlaqul karimah". "Akhlaqul karimah" yaitu berperangai kamu dengan akhlak Allah SWT yaitu tertera dalam kalimat "basmallah" dimana bias sinar dari Allah SWT memancar dalam bentuk sifat pengasih dan penyayang, tapi bukan berarti mengekploitir cinta yang menjadikan malapetaka hingga mengatakan bahwa syaitan pembawa laknat sebagai malaikat pembawa rahmat. Itu terjadi karena banyak yang mengekploitir ilmu tauhid hakekat demi nafsu cintanya (dengan lawan jenis). Sehingga jika tidak hati-hati dalam memahaminya maka akan terjerumus dengan dirinya sendiri. Jika sudah terjerumus maka akan sulit ditolong. Mengalirlah cinta kasih sebagaimana Allah SWT mengalirkan cinta kasih kepada hamba-hambaNya, namun dalam mengalirkan cinta kasihnya tidak diekploitir demi kepentingan nafsu nafsunya.

Dalam pengamalan ilmu tauhid dan hakekat pun jangan terlepas dari Mursyidnya atau tetaplah bertapaut pada Mursyidnya. Kerinduan antara salikin kepada Mursyidnya itu tanda hatinya bersinergi, menyatu dalam kebersamaan menuju kepada-Nya. Jika tidak merindu maka itu yang berbahaya. Jika ada yang mengatakan rindu kepada Rasul namun belum pernah mengetahui wujud rasul, maka itu bohong. Bagaimana bisa merasakan kerinduan jika belum pernah bertemu dengan Rasul? Padahal penggambaran sifat sifat rasul pun mewujud pada "warosatul anbiya" yaitu para pewaris nabi (ulama, mursyid). Jika mencintai para "warosatul anbiya" maka sama saja mencintai Rasul, jika mencintai Rasul sama saja mencintai Allah SWT. Bohong jika orang bilang mencintai Allah SWT namun tidak mencintai Rasul, bohong jika orang bilang mencintai Allah SWT dan rasulnya namun tidak perduli dengan guru/mursyidnya.

Jika ingin mendapat ridho Allah SWT maka raihlah ridho orang tua (lahiriah). Jika ingin mendapaatkan syafaat Maka raihlah syafaat Orang tua ruhaniah (Mursyid). Jika menjalani kehidupan dengan "akhlaqul karimah" maka akan nyaman karena "akhlaqul karimah" bukan hanya sikap lahir saja namun sikap hati oleh karenanya kita disuruh untuk berperangai dengan akhlaq Allah SWT. Jika kita memahami takdir Allah SWT, segala ujian dan cobaan, itu pun termasuk dalam berperangai dengan akhlak Allah SWT. Disebutkan bahwa orang yang mengkaji ilmu tauhid dan hakekat menyebut segala ujian dan cobaan adalah hari rayanya para salikin karena dengan ujian dan cobaan diangkatnya noda dan dosa. Cara yang cepat untuk membersihkan dosa yang tidak didapat dari ibadah lainnya (seperti shalat puasa dan lainnya) yaitu dengan adanya ujian dan cobaan dan menghadapinya dengan "istiqomah" dan "husnudzon" kepada Allah SWT sehingga muncul sifat sabar dan waspada pada dirinya.

Contoh :
- tidak ada orang yang difitnah melaikan dosanya pindah kepada yang memfitnahnya
- Tidak ada orang yang sabar dighibah melainkan dosanya menjadi bersih

Jika tidak diberikan ujian dan cobaan oleh Allah SWT, belum tentu melakukan taubat.

Syarat taubat kaitan dosa dengan Allah SWT :
1. Berhenti dari perilaku yang sedang ditaubati
2. Menyesali apa yang telah dilakukan
3. Berjanji untuk tidak mengulangi apa yang sudah dilakukan
4. Jika mempunyai hutang wajib menyelesaikan persoalan tersebut (tambahan jika taubatnya yang berhubungan dengan manusia)

Jika syarat taubat tidak dipenuhi maka belum sah taubatnya (dibersihkan segala dosanya). Berbeda jika saat diuji dan dicoba Allah SWT dan mengamalkan ilmu tauhid dan hakekat maka akan bersih segala hati dan jiwanya. Keistimewaan ujian dan cobaan tidak akan didapat dari ibadah shalat dan puasa atau dari ibadah lain.

Contoh :
- orang yang datang mengkaji tauhid dah hakekat dikarenakan suatu permasalahan (ujian dan cobaan) yang jika ia dalam keadaan senang belum tentu mau mengkaji ilmu tauhid dan hakekat.

Berbagai ujian dan cobaan itu bagaikan hamparan karunia Allah SWT. Maksudnya yaitu Allah SWT menghamparkan keistimewaan bagi kalian dengan adanya ujian dan cobaan. Jika engkau ingin sebuah pemberian karunia yang besar dari Allah SWT maka bersungguh-sungguhlah kalian menjadi fakir miskin karena yang berhak mendapatkan pemberian ("sodaqoh") itu adalah fakir miskin. Fakir miskin maksudnya yaitu harus bersikap “laa hawla wa laa quwwata illa billah”, tiada daya dan upaya kecuali daya dan upaya Allah SWT. Menekankan pada akidah hati bahwa kita tidak dapat berbuat apa-apa kecuali karena daya dan upaya Allah SWT. Bersikap tidak mempunyai daya dan upaya yaitu Orang yang menjadikan “laa hawla wa laa quwwata illa billah” sebagai paradigma hidup dalam diri dan mengalir dalam pekerjaannya, bukan hanya ucapan saja, inilah yang disebut "faqir ilallah". Seperti halnya jika ingin keluar rumah maka membaca doa "Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah". Dalam hal ibadah ritual pun sama, harus bersikap “laa hawla wa laa quwwata illa billah” seperti halnya panggilan adzan "hayya 'alal falah" dan "hayya 'ala shola" maka kita wajib menjawab panggilan azan tersebut dengan kalimat “laa hawla wa laa quwwata illa billah”. Sebenarnya hal itu sudah ada di dalam kehidupan kalian namun karena tidak mengkaji ilmu tauhid dan hakekat maka tidak memahaminya.

Dirangkum oleh : Himmah Hizboel⁠⁠⁠⁠