Rangkuman Kajian Jum'at Malam, 5 Agustus 2016


Jumat , 30 September 2016


Pesantren Akmaliah Salafiah
Kitab Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Athoillah)

"Saat saat kesulitan seorang salikin itu adalah merupakan sebagai hari raya nya bagi seorang salikin/murid".

Sesuatu apapun yang ada dalam Hati kita selain dari Allah SWT akan menjadi persoalan bagi kita dan akan masuk ke dalam "sakit" lahir maupun batin. Jika ingin "sehat" maka lepaskanlah, bersihkanlah segala macam sampah-sampah dari hati kalian. Dunia dikatakan sampah karena memang akan mengotori hati dan jiwa kita. Jika rumah (hati) bersih dari sampah maka akan nyaman, sehat.

Hadist Rasulullah :

‎النَّظَافَةُ مِنَ الْإيْمَانِ

“Kebersihan adalah Sebagian dari Iman”

Hadist Qudsi :

“Qalbul mukmin Baitullah.”
“Qalbu orang yang beriman itu adalah rumah ALLAH.”

Orang yang bersih hatinya itu mudah memaafkan, tidak mudah marah, selalu menerima apa yang Allah SWT berikan sehingga menjadi nyaman dan tentram hidupnya. Membersihkan hati dan jiwa itu penting. Tatkala terbiasa memandang segala sesuatu dengan "syuhud" dan "musyahadah" maka menjadikan kita tidak mudah marah. Tatkala sudah mengambil maaf maka akan terasa nikmat. Orang tidak akan mudah mengambil maaf jika tidak mengkaji tauhid dan hakekat karena untuk memandang/memaafkan seseorang harus menekankan bahwa segala sesuatunya itu datang dari Allah SWT.

Tatkala ujian dan cobaan datang pada salikin justru itu merupakan hari rayanya para salikin. Tatkala sudah dapat memaafkan atau sudah dapat memandang hakekat apa yang datang itu dikirim dari Allah SWT sebagai ujian dan cobaan untuk mengangkat derajat hamba maka yang ada hanya kesenangan dalam ujian dan cobaannya. Tidak ada ujian melainkan akan mendapatkan keistimewaan dan anugerah dari Allah SWT sehingga dengan kata lain bahwa ujian dan cobaan bagi salikin adalah sebuah anugerah. Jika tidak memandang sebagai anugerah berarti masih memandang sesuatu itu kehambaan/mahluk.

Jika dirunut maka yang menciptakan manusia adalah Allah SWT bahkan yang menciptakan syaitan dan iblis pun Allah SWT. Iblis hakekat nya malaikat, namun ia menjelma menjadi iblis. Iblis merupakan sebuah predikat yang Allah SWT turunkan, yang dulu disebut malaikat.

QS. Taha : 116

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ

Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang.

Hadist qudsi :

Allah SWT berfirman : "Pergilah pada hambaKu lalu timpahkanlah berbagai ujian padanya karena Aku ingin mendengar rintihannya"

Ujian dan cobaan tidak hanya dalam kebaikan tetapi juga kesukaran, melalui penyakit lahiriah dan dapat melalui pasangan hidup. Malaikat dalam menguji manusia dalam bentuk manusia (contoh pasangan) dan tatkala pasangan berlaku buruk maka ujian datang dari bisikan iblis.

QS. Al Baqarah : 168

‎وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ

Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan;

Yang diserukan pada ayat tersebut adalah jangan mengikuti langkah langkah syaitan bukan dirinya syaitan karena tidak ada diri syaitan.

QS. Al Baqarah : 169

إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.

Setiap ujian akan mendapatkan kebahagiaan. Jika sekarang sedang susah maka akan ada masa tidak susah, jika sekarang menderita maka akan ada masa tidak menderita. Yang terpenting adalah adanya ikhtiar dimana selalu mengembalikan kepada Allah SWT dimana mengembalikan yang ada pada diri kepada Allah SWT seperti qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama, bashar, kalam itu semua adalah milik Allah SWT.

Kekuasaan Allah yang ada pada diri kita disebut qudratun.
Kehendak Allah SWT yang ada pada diri kita disebut iradatun.
Pengetahuan Allah SWT yang ada pada diri kita disebut 'Ilmu.
Hidup kita milik Allah SWT disebut hayyun.
Mendengar, melihat dan berkata-kata semua milik Allah SWT yang disebut sami'un, bashirun, mutakalimun.

Itu semua harus dikembalikan kepada Allah SWT dalam sikap hawallah. Tanpa 7 sifat ma'ani tersebut maka tidak mungkin hamba dapat bergerak dalam konsep ilmu tauhid dan hakekat. Jika memandang seperti bahwa semua harus dikembalikan kepada Allah SWT maka akan lebih memaafkan dan memaklumi orang lain.

Ujian dan cobaan yang datang pada salikin akan menjadikan ia kembali kepada fitrahnya asalkan menghadapinya dengan ilmu tauhid dan hakekat. Oleh karenanya bersihkan hati agar bergembira dalam menghadapi apapun, jernihkan hati agar tetap bahagia, lapangkan hati agar tetap legowo dalam menerima apapun.

Cara membersihkannya adalah dengan dzikir dan disertai pemahaman ilmu tauhid dan hakekat. Jangan salah kaefiyat karena jika salah malah akan menjadi malapetaka bahkan menjadi syaitan dalam diri sendiri. Oleh karenanya benar kata mualif menjelaskan bahwa ujian dan cobaan yang datang pada salikin itu merupakan hari raya bagi para salikin Karena mendapatkan keistimewaan dari Allah SWT. Oleh karenanya Allah SWT akan memberikan sesuatu apapun disaat kalian membutuhkannya.

 

Dirangkum oleh : Himmah Hizboel