ABSENSI ELEKTRONIK, TALQIN MAYYIT, DAN PERJALANAN SPIRITUAL SALIKIN


Senin , 21 Maret 2016 Munassiq Bekasi

Absensi Elektronik, Talqin Mayyit, Dan Perjalanan Spiritual Salikin
Absensi Elektronik, Talqin Mayyit, Dan Perjalanan Spiritual Salikin

BEKASI, AKMALIAH-NEWS – Pengurus Pesantren Akmaliah Salafiah [PAS], khususnya Bidang Organisasi dan Kejama’ahan [ORGAJAM], Jhon Hendri Ayatullah dan Sarko Purnomo, memberikan widya organisasi menyangkut pendataan jama’ah Pesantren Akmaliah Salafiah [PAS] yang kehadirannya belum terdata dengan lengkap dan akurat pada acara munassiq, di kediaman Tumirin, Cibitung – Bekasi, Minggu [20/3].

“Pendataan jama’ah” papar Jhon Hendri adalah salah satu program kerja ORGAJAM. Hingga saat ini, masih giat meramu formula ke-jama’ah-an. Kami ingin memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh jama’ah. Bahkan dimeja rapat kepengurusan – tegasnya, hal ikhwal kejama’ahan begitu menguras energi berlipat. Oleh karena itu ORGAJAM menggulirkan wacana “absensi elektronik” untuk pendataan sekaligus penertiban administratif.

Dalam ranah sosialisasi “pendataan” jama’ah. Pengurus Pesantren Akmaliah Salafiah [PAS], dalam hal ini ORGAJAM [selalu] terbuka kepada pengurus harian, Salikin, jama’ah disetiap ke-munassiq-an guna “mengurai” benang kusut seperti apa yang terjadi dilapangan. Mengingat medan ke-munassiq-an antara satu dengan lainnya terdapat perbedaan.

Bahkan, ketua Pesantren Akmaliah Salafiah [PAS], Rinto D Sumarno menegaskan, pendataan yang kini tengah bergulir harus segera diwujudkan sesuai dengan harapan. Mengingat pentingnya data-data tersebut, sehingga pengurus Pesantren Akmaliah Salafiah [PAS] mampu mengontrol laju derasnya jama’ah yang datang dari berbagai penjuru yang begitu fluktuatif. “Kita, [red: Pengurus PAS] harus cerdas membaca situasi dan kondisi lapangan jangan sampai hal yang tidak diharapkan terjadi, lalu pengurus tidak ada yang tahu dan mengerti” ungkapnya. “Oleh sebab itu, mari kita sama-sama bahu-membahu untuk merealisasikan program kerja ini terutama terkait pendataan jama’ah ini.” pungkasnya.

TALQIN MAYYIT DAN PERJALAAN SPIRITUAL
Setelah “dialog kepengurusan” selesai. Acara dilanjut dengan “tabayyun”. Syamsuddin mengawali sesi tanya jawab dengan Mursyid Akmaliah. Adapun pertanyaannya ialah terkait persoalan ke-jenazah-an. Ia menuturkan bahwa tarmaktub dalam buku-buku kaifiat jenazah dimana diterangkan agar men-taukid-kan [menekankan] atau mentahkikkan posisi jenazah lalu apabila terjadi hal yang terlupakan, apakah hal tersebut menjadi persoalan besar bagi jenazah tersebut?.

Sebelum menjawab pertanyaan Syamsuddin. Mursyid Akmaliah [selalu] mengawali tabayyun dengan uluk salam dilanjut dengan doa, tentu saja, untuk keberkahan bagi siapa saja yang hadir dalam acara ke-munassiq-an ini. Wa bi-l khusus untuk tuan rumah atas kesediannnya “menyambut” para Salikin yang tengah dahaga menimba air penyejuk jiwa [maa-ul bariid] dari sumur yang tak pernah habis-habisnya.

Selanjutnya, Mursyid Akmaliah menjelaskan, hal yang demikian, katanya, “itu tidak menjadi persoalan besar”. Karena pen-taukid-an atau pentahkikkan akan di akui oleh para Malaikat, sebut saja menutup buku-buku yang selama ini dicatat; kalau yang menyatakan itu ialah ‘Arifin billah atau orang-orang shaleh. Bahkan, Beliau mengisahkan sebuah riwayat dimana, ada seorang laki-laki yang meninggal dunia, masuk surga. Bukan karena banyak salat atau puasanya, melainkan karena ia memiliki anak yang shalehah yang tunduk patuh dan mengabdi kepada suaminya, yang membuat Rasulullah Saw hatinya mengagumi keshalehahan anak tersebut dan beliau ungkapkan pada saat pemakaman laki-laki tersebut.

Pertanyaan terus bergulir, dilanjut oleh Syaiful al Biruni terkait soal mimpi dan takwilnya. Dilanjut oleh Budi dengan memaparkan perjalan spiritualnya dalam menyibak nafsu yang bertengger selama hidupnya. Dan pertanyaan pun ditutup oleh Salim Alwan al Khatiri terkait soal talqin mayyit dan kejelasan pertanyaan-pertanyaan dalam kubur. [Rivai Adi]