BESEK ORGANISASI


Sabtu , 30 Juli 2016 Pengurus Pusat

Besek Organisasi
Besek Organisasi

BERITA PAS/Pengurus/Jakarta – Ibarat sebuah ritual kenduri. Setelah usai, para tamu diberikan bekal; berupa “besek”, untuk dibawa pulang ke Rumah masing-masing. Sekadar mencicipi keberkahan atas taburan doa yang dirapalkan para Kiai dan orang-orang Saleh ketika ritual berlangsung. Berbicara soal “besek”,  Kali ini Pengurus Akmaliah Salafiah (PAS) sedang mempersiapkan “besek-besek” tersebut untuk “bekal” seluruh pengurus munassiq di wilayah Jabodetabek, Jawa Tengah, DIY, dan Sumenep; dengan mengadakan Rapat Pembekalan Pengurus di Padepokan Pencak Silat – TMII, Jakarta Timur, Sabtu, 23 Juli 2016.

Agenda rapat kepengurusan dibacakan oleh Bapak Ir. H. Rinto Dwi Sumarno selaku pemimpin rapat. Kemudian dilanjut, dengan “pandangan:” tentang sturuktur keorganisasian dan didetailkan oleh perwakilan dari bidang ORGAJAM, yakni, Bapak Sri Hatmo. Agenda terus bergulir. Satu persatu tokoh-tokoh Akmaliahmaju ke podium guna memberikan “pandangan umum” terkait keorganisasian dan kejamaahan. Sebut saja beliau-beliau itu adalah: Ustaz Abdul Aziz dari Songgom. Ustaz Ali M Abdillah dari Cikeas. Ustaz Fathullah dari Brebes. Kemudian di ikuti perwakilan delapan belas Munassiq yang tersebar diwilayah Jabodetabek, Jawa Tengah, DIY, dan Sumenep.

Pandangan umum yang sejak pagi “disuguhkan” dengan berbagai macam rasa dan khas berbagai daerah;  kembali diolah – dikemas oleh Bapak Ir. H. Rinto Dwi Sumarno, Beliau menegaskan bahwa, sebenarnya apa yang telah disuguhkan, dihidangkan, hakikatnya berasal dari satu tungku dengan pembaraan yang satu pula. Hanya, tinggal dicicipi dengan seksama, dan dibungkus kedalam besek-besek secara apik untuk dihidangkan kepada tamu-tamu Allah yang datang ke Pesantren Akmaliah Salafiah (PAS), rumah peristirahan jiwa.

NILAI-NILAI DASAR ORGANISASI

Jika membuka kembali “sejarah” dunia tentang sebuah “Sistem”. Meminjam buah pikir Ir Soekarno, ketika menorehkan dalam buku masyhurnya, “Di Bawah Bendera Revolusi“. Beliau menegaskan, dunia ini bukan pertarungan “ideologi” melainkan pertarungan “penghidupan”. Pendeknya, manusia membangun sebuah sistem hanya demi dan untuk kelangsungan hidup belaka. Ketika sumber daya alam minim dan terbatas. Maka naluri dasar untuk menguasai mulai tergerak dan menjalar keseluruh negeri-negeri subur. Tak sekadar itu, negeri yang banyak dijejaki kuda-kuda pilihan, kicau burung, dan flora lainnya, yang ikut memperkaya, sebuah “negeri”, yang mereka menyebutnya “tak bertuan” itu. Dikeluarkannya perjanjianTordesilas di tahun 1494 M, Paus Alexander IV memberikan lampu hijau bahwa, Imprealisme dan penjajahan di atas dunia (telah) disahkan. Itulah sekelumit pergulatan bangsa manusia, dalam lompatan sejarah. Yang (hanya) mengedepankan exploitation de l’homme par l’homme[1], hingga level exploitation de nation par nation[2].

Demikian world view yang ada. Kembali kepada “pembekalan” rapat yang telah diagendakan. Kali ini, ketua Pengurus Pesantren Akmaliah Salafiah (PAS) mempersilakan kepada Dewan Pembina Pesantren Akmaliah Salafiah (PAS), Bapak Dr. H. Muhammad Rosyidin Mundiharno agar memberikan “pembekalan” motivasi sebagai pelengkap isi besek keorganisasian yang kelak dibawa pulang sebagai bekal yang berisikan doa, harapan, dan cita-cita guna mencapai “end goal” bersama-sama. Yakni mewujudkan Pesantren Akmaliah Salafiah (PAS) sebagai Pusat Kajian Tauhid dan Hakikat hingga Makrifat di Nusantara bahkan dunia.

Kesempatan kali ini, Bapak Dr. H. Muhammad Rosyidin Mundiharno memaparkan sistem organisasi yang diterapkan di Pesantren Akmaliah Salafiah (PAS). Beliau menegaskan, – meminjam istilah Mbah Hasyim – “Gunakanlah Jas milik sendiri. Jangan gunakan Jas milik orang lain“. Ketika diamanatkan oleh Mursyid menjadi Ketua Pesantren Akmaliah Salafiah (PAS). Beliau mengatakan, seluruh ilmu yang dimilikinya telah dioptimalkan secara maksimal untuk membangun sistem dan menjadi fondasi dalam mewujudkan Akmaliah sebagai Pusat Kajian Tauhid dan Hakikat Hingga Makrifat.

Untuk mencapai “cita-cita” besar tersebut. Menurut Bapak Dr. Ir. Muhammad Rosyidin Mundiharno, harus ada singkronisasi “end goal” diri sebagai Saalikin, dengan “end goal” keorganisasian. Sebab, beliau menegaskan kembali, apabila tidak disingkronisasikan, bahayanya ialah terjadi konsleting. Oleh sebab itu, untuk mencapai hal-ihwal demikian itu, perlunya sebuah “sistem” yang baik. Sebesar apapun cita-cita. Sebanyak apapun agenda yang dibuat. Apabila tidak didukung dengan “sistem” yang baik, maka tidak akan sampai kepada end goal yang diharapkan.

Bahkan, Mursyid Akmaliah pun menegaskan; berbicara mengenai sistem organisasi, Pesantren Akmaliah Salafiah menganut sistem “Demokrasi Religi[3]“. Sebuah sistem yang mengadopsi atau mengambil contoh dari Allah Taala dalam menata kehidupan makhluk dan umat manusia. Sekaligus mengambil “contoh” dari kehidupan dan kepemimpinan Rasulullah Saw di zamannya. Dan, sistem “Demokrasi Religi” inilah yang ideal untuk diterapkan di Pesantren Akmaliah Salafiah, tegas Mursyid Akmaliah di lain kesempatan.

Selain “sistem” yang dipilih. Banyak hal yang membuat konslet keorganisasian. Salah satunya, apabila sistem selalu dilihat dalam konteks struktural saja. Sebab kata “struktur” baik di Akmaliah atau diluar ke-Akmaliah-an; bagi seorang Saalikiin, akan menjadi sebuah “jebakan” bagi eksistensi ke-ego-an diri sendiri. Apabila dalam organisasi masih “semraut” dalam konteks struktural. Itu tandanya, eksistensi individual masih kuat ditubuh organisasi. Sebab jika berbicara sistem, penguatan individual lenyap, yang muncul hanyalah “eksistensi” organisasi.  Dalam kamus istilah pergerakan, hal yang demikian itu, disebut dengan “nilai dasar pergerakan”. Bagi Saalikiin nilai dasar pergerakannya ialah “meruntuhkan ego” dalam berorganisasi. Sistem organisasi akan berjalan apabila setiap individu berkomitmen meleburkan diri dalam “kedirian” organisasi.

Kembali Bapak Dr. H. Rosyidin Mundiharno memaparkan, tidak ada satu organisasi pun yang memiliki potensi besar dan berkembang secara pesat seperti di Akmaliah. Kuncinya, ungkap beliau, hanya satu, yakni,  “memiliki Mursyid”. Peran besar Mursyid ialah “meredam” ego sebagai rujukannya. Setelah ego merdam. Langkah selanjutnya, “membunuh” sangka-sangka (zhan). baik itu sangka “pengurus” kepada “Jamaah” atau sebaliknya, “Jamaah” kepada “pengurus”. Adapun penyakit pengurus terhadap jamaah ialah, terlalu tingginya syahwat untuk mengatur.

Bapak Dr. H. Muhammad Rosyidin sependapat dengan Stephen MR Covey, anak dari Stephen R Covey, penulis buku motivasi terkenal, “The 7 Habits of Highly Effevtive People“. Dalam bukunya Stephen MR Covey, “The Speed of Trust” bahwa “kepercayaan” atau “Trust” (selanjutnya, Trust) adalah pondasi untuk sebuah korporasi. Menurutnya, organisasi apabila tidak ada trust, maka akan kalah bersaing, bahkan “lesu” untuk bergerak. Kelesuan ini, -dalam organisasi – disebabkan ketidak percayaan masing-masing. Yang muncul kepermukaan hanyalah pergulatan terhadap tafsiran. Makanya dari itu, Stephen MR Cover dalam bukunya menyebutkan, seorang pemimpin wajib membangun trust dalam berorganisasi.

Maka dari itu, selaku Dewan Pembina Pesantren Akmaliah Salafiah menekankan kepada seluruh pengurus yang hadir dalam Rapat Pembekalan, untuk terus membangun trust dalam keorganisasian. MunculnyaTrust apabila zhan atau sangka dalam diri itu telah lenyap. Oleh sebab itu, agenda akan terlaksana dan end goal akan tercapai, apabila seorang pemimpin itu mampu menginspirasi dan memberikan “roh” pergerakan. Jangan sampai pemimpin itu terjebak dalam pengaturan detail. Gunanya menebarkan inspirasi dan gagasan, agar tumbuh “motivasi” disetiap munassiq untuk bergerak dengan gerakannya sendiri. Sistem akan berjalan, apabila komponen-komponen ada, diberikan ruang untuk bergerak. Tugas pemimpin atau pengurus ialah “menginspirasi” bukan menyetir sampai ketingkat detail. Jika itu terjadi, maka padamlah  kreatifitas sekalighus membunuh spirit yang ada.

Sekali lagi, Bapak Dr. H. Muhammad Rosyidin Mundiharno menekankan sekaligus memberikan pelengkap dalam besek pembekalan, terkait soal sistem, adalah bagaimana “menggerakkan” segala komponen yang ada, bergerak sesuai dengan energi dan kreatifitasnya masing-masing. Sebagai pengurus atau pemimpin di ke-munassiq-an wajib untuk menumbuhkan dan mendorong, agar yang satu muncul, yang lain mengikuti. Jangan biarkan tumbuh dengen sendirinya. Tumbuh sendiri tanpa adanya koordinasi akan menjadi benturan antar komponen lainnya. Sistem akan gagal, apabila sub sistem tidak berjalan. Atau, sub sistem “melesat” jauh hingga terjadi benturan-benturan.

Oleh sebab itu, Bapak Dr. H. Muhammad Rosyidin menambahkan, tugas pertama sebagai pemimpin atau pengurus ialah: Pertama, memberikan inspirasi. Kedua, mengharmonisasikan gerakan sub sistem baik di pusat maupun di daerah agar bersinergi. Dua pokok inilah yang harus dipegang, himbaunya. Dua pokok tidak dijalankan dengan baik dan benar; yang terjadi adalah benturan-benturan atau konsleting. Parahnya, apabila masuk rana “Psikologis”. Sebab, benturan psikologis di Akmaliah lebih dahsyat dibandingkan benturan psikologis di luar, sebab ada keterikatan emosional yang begitu kental, pungkasnya.
 

[1] Eksploitasi manusia atas manusia lainnya
[2] Eksploitasi bangsa atas bangsa lainnya
[3] Baca ulasan “Demokrasi Religi”